Wawancara dengan Jokowi: Saya Suka Korea dan Nonton SuJu

Ada yang menarik dari sosok Jokowi atau Joko Widodo yang baru saja dilantik sebagai presiden Indonesia kemarin. Ternyata, pria kelahiran Solo ini adalah penggemar budaya Korea dan bahkan sempat dua kali menonton konser boyband K-pop Super Junior bersama putrinya.

Foto Jokowi

Dalam sebuah wawancara eksklusif dengan media Korea, JoongAng Ilbo, di Jakarta menjelang pelantikannya, Jokowi mengatakan dia memegang teguh moto “kesatuan dalam keberagaman,” menekankan perlunya mendengarkan suara rakyat dan bekerja sama dengan partai-partai oposisi.

Presiden baru di negara demokrasi terpadat ketiga di dunia (setelah India dan Amerika Serikat) ini dianggap sebagai “abdi rakyat” dan pemimpin pertama negara ini yang tak memiliki akar kuat dalam era Orde Baru.

Jokowi mengambil alih tampuk kepemimpinan dari Susilo Bambang Yudhoyono yang telah menjabat selama 10 tahun. Dia terpilih sebagai presiden pada tanggal 22 Juli, mengalahkan Prabowo Subianto, mantan jenderal yang pernah menikah dengan putri Soeharto. Jokowi akan menghadapi banyak tantangan untuk mewujudkan cita-cita reformasi, salah satunya karena parlemen di Indonesia saat ini didominasi oleh kelompok-kelompok politik yang bersaing.

Jokowi, yang merupakan gubernur DKI Jakarta dari tahun 2012 sampai pekan lalu, dilantik di parlemen nasional dalam upacara yang dihadiri oleh pejabat asing seperti Menteri Luar Negeri AS John Kerry, Perdana Menteri Australia Tony Abbott dan Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong.

Jokowi lahir di Solo (Surakarta) sebagai anak seorang penjual kayu. Dia memulai karier politiknya dengan menjabat sebagai walikota Surakarta periode 2005-2012 dan telah menjalankan bisnis ekspor mebel. Berikut isi wawancara Jokowi dengan JoongAng Ilbo.

Apa pendapat Anda tentang julukan Anda sebagai ‘Obamanya Jakarta’?

Presiden AS Barack Obama adalah salah satu tokoh yang saya hormati. Banyak orang membandingkan saya dengan dia, namun, saya lebih ganteng (sambil tertawa kecil). Saya kira mendengarkan sentimen publik dan mengunjungi pasar serta tempat-tempat lain untuk mengetahui kesulitan mereka membuat saya mendapatkan imej itu. Namun, situasi di Indonesia sangat berbeda dengan Amerika Serikat.

Salam tiga jari yang menandakan kesatuan Indonesia telah menjadi merek dagang Anda. Apakah Anda yakin bahwa Anda dapat mencapai kesatuan tersebut?

Menyerukan nomor “tiga” adalah usulan untuk menegakkan moto saya “kesatuan dalam keberagaman,” untuk menjadi satu dalam rangka membangun bangsa. Itulah tujuan saya dan juga nilai mutlak yang diperlukan bagi pembangunan nasional. Saat saya menjabat sebagai walikota Surakarta dan gubernur Jakarta, saya selalu merasa bahwa meskipun partai-partai politik berbeda dan apa yang mereka kejar juga berbeda, tujuan bersama adalah untuk membangun bangsa yang lebih baik.

Pada Juli lalu, Anda menerima rekomendasi calon kabinet dari masyarakat dalam survei internet yang disebut “Kabinet Alternatif Usulan Rakyat.” Beberapa orang menyebutnya sebagai ide inovatif sementara yang lain menyebutnya naif. Apa hasilnya?

Di masa lalu, hubungan antara pemerintah dan rakyat bersifat vertikal dan top-down. Mengubahnya menjadi horisontal, kiri ke kanan, adalah tujuan dasar saya. Melalui cara ini, rakyat harus belajar tentang pemerintah. Itulah sebabnya kami memberikan kesempatan (bagi rakyat) untuk berpartisipasi. Keputusan akhir dibuat oleh presiden.

Indonesia adalah negara dengan banyak potensi. Bagaimana Anda akan menepati janji Anda mencapai pertumbuhan ekonomi 6 sampai 7 persen dalam lima tahun ke depan?

Kami akan membuka pintu lebar-lebar bagi para investor asing. Karena kita kekurangan bandara, pelabuhan, jalan, dan infrastruktur lainnya, saya tahu betul bahwa investor asing enggan berinvestasi di Indonesia. Tapi kami akan lebih aktif mengembangkan infrastruktur, terutama memprioritaskan daerah pedesaan berkembang seperti Sumatera. Pengembangan sumber daya manusia juga penting. Saya akan memperluas kesempatan pendidikan bagi pemuda untuk meningkatkan produktivitas mereka dan berusaha meningkatkan kesejahteraan golongan berpenghasilan rendah.

Hal ini terjadi di Korea juga, tapi ada perlawanan terhadap reformasi dari kelas istimewa. Anda juga berjanji untuk mengurangi subsidi bahan bakar yang telah menyebabkan sejumlah perlawanan.

Saya menghadapi situasi yang sama baik sebagai walikota maupun gubernur. Bukankah semua reformasi diikuti oleh resistensi? Tapi setelah dua sampai tiga bulan dialog dan persuasi, bahkan kekuatan oposisi akhirnya mengikuti kehendak saya dan akhirnya masalah itu diselesaikan. Saya kira itu akan menjadi seperti ini di masa depan.

Perusahaan-perusahaan Korea di Indonesia mengatakan bahwa faktor-faktor yang menghalangi investor asing adalah kenaikan mendadak dalam upah minimum, peraturan yang ketat terhadap tenaga kerja asing, sistem pajak, dan kurangnya insentif.

Pernyataan itu sangat membantu saya. Saya akan mencari langkah-langkah yang wajar. Kenaikan upah minimum sebesar 40 persen baru-baru ini mengikuti permintaan mendadak dan aksi kolektif setelah periode upah rendah yang cukup lama. Ini akan berbeda di masa depan. Survei dasar tentang biaya hidup minimum dan faktor lainnya akan dilakukan dalam rangka membangun peningkatan wajar dalam hal tingkat upah. Peraturan untuk mempekerjakan tenaga asing tidak tampak begitu ketat menurut saya, tapi kami akan meneliti apakah kami menjalankan praktik yang terlalu ketat untuk pekerja (asing) dan memberikan tanggapan.

Bidang apa yang Anda inginkan agar perusahaan Korea berinvestasi di dalamnya?

Saya tahu betul bahwa Posco (menginvestasikan tiga milyar dolar AS) untuk membangun pabrik baja pertama di Asia Tenggara yang terintegrasi (di Indonesia). Kami menyambut perusahaan-perusahaan Korea lain berinvestasi di bidang infrastruktur. Kami juga mengharapkan perusahaan teknologi tinggi Korea yang kuat untuk meningkatkan investasi di sini.

Pembangunan jalur pertama metro Jakarta dipimpin oleh sebuah konsorsium perusahaan Jepang dan Indonesia. Akankah ada peluang bagi perusahaan Korea untuk mendapat kontrak tersebut?

Kami berencana untuk terus membangun kereta api kota semacam ini di Jakarta dan kota-kota satelit lainnya. Banyak kereta api di pulau-pulau selain Jawa juga akan dibangun. Perusahaan-perusahaan China juga telah menunjukkan usaha untuk memenangkan kontrak-kontrak tersebut.

Demam Hallyu di Indonesia cukup mengesankan

Saya menonton konser Super Junior dua kali karena anak saya menyukai mereka. Saya terpaku di kursi saya sampai akhir. Anak saya suka makanan Korea sehingga dia membuat kimchi sendiri. Saya juga suka Korea. Ketika saya pergi ke Korea, saya mendapat kesan kota-kota yang bersih dan teratur. Saya pikir Indonesia bisa menjadi seperti itu, tapi kami membutuhkan waktu.

Komentar Anda