Menyorot Sejarah Kelam Negara Aljazair

Aljazair, pintu gerbang antara Afrika dan Eropa, telah dihantam oleh kekerasan selama setengah abad terakhir. Lebih dari satu juta warga Aljazair tewas dalam perjuangan merebut kemerdekaan dari Perancis pada tahun 1962. Negara ini mencoba kembali bangkit dari konflik internal brutal yang diikuti pertikaian pemilihan umum pada tahun 1992.

Gambar Kerusuhan di Aljazair

Gurun Sahara mencakup lebih dari empat perlima dari wilayah Aljazair. Cadangan minyak dan gas ditemukan di sana pada tahun 1950, tetapi sebagian besar penduduk Aljazair tinggal di sepanjang pantai utara. Negara ini memasok gas alam dalam jumlah besar ke Eropa dan ekspor energi merupakan tulang punggung perekonomian negara.

Aljazair awalnya dihuni oleh suku Berber sampai orang Arab menaklukkan Afrika Utara pada abad ke-7. Berbasis di daerah pegunungan, suku Berber menolak penyebaran pengaruh Arab dan berupaya melestarikan bahasa dan budaya mereka sendiri. Mereka membentuk sekitar 30% dari populasi Aljazair.

Sebagai bagian dari kerajaan Turki Ottoman dari abad ke-16, Aljazair ditaklukkan oleh Perancis pada tahun 1830 dan diberi status “departemen”. Perjuangan untuk merebut kemerdekaan dimulai pada tahun 1954 dipimpin oleh Front Pembebasan Nasional, yang berkuasa pada era kemerdekaan di tahun 1962.

Pada era 90-an politik Aljazair didominasi oleh pertikaian yang melibatkan kelompok militer dengan militan Islam. Pada tahun 1992, pemilihan umum yang dimenangkan oleh sebuah partai Islam dibatalkan, menyebabkan perang sipil berdarah di mana lebih dari 150.000 orang tewas. Amnesti pada tahun 1999 membuat banyak pemberontak meletakkan senjata mereka.

Meskipun kekerasan politik di Aljazair telah menurun sejak tahun 1990-an, negara ini sempat terguncang oleh oleh aksi pemboman yang dilakukan oleh kelompok yang menamakan dirinya al-Qaeda in the Land of Islamic Maghreb (AQLIM). Kelompok ini sebelumnya dikenal dengan nama Salafist Group for Call and Combat dan memiliki akar dalam milisi Islam yang terlibat dalam perang sipil pada era 1990-an.

Meskipun para ahli meragukan apakah AQLIM memiliki hubungan langsung dengan operasi Al-Qaeda di tempat lain, metode (seperti pemboman bunuh diri) dan pilihan targetnya (seperti para pekerja asing dan markas PBB di Aljazair) mengikuti metode al-Qaeda. Kelompok-kelompok Islam di seluruh wilayah Sahara dihubungkan di bawah payung gerakan baru, yang diperkuat dengan senjata yang diperoleh selama perang sipil Libya.

Setelah bertahun-tahun pergolakan politik dan kekerasan, ekonomi Aljazair telah meningkat seiring penemuan minyak dan gas. Negara ini diperkirakan memiliki cadangan minyak hampir 12 miliar barel, menarik minat yang kuat dari perusahaan-perusahaan minyak asing. Namun, kemiskinan tetap meluas dan pengangguran semakin tinggi, khususnya di kalangan kaum muda Aljazair. Korupsi endemik pemerintah dan rendahnya pelayanan publik juga merupakan sumber kronis ketidakpuasan masyarakat.

Unjuk rasa besar pecah pada Januari 2011 memprotes melonjaknya harga pangan dan pengangguran, dan dua orang tewas dalam bentrokan dengan pasukan keamanan. Pemerintah menanggapi situasi ini dengan memerintahkan pemotongan harga bahan pokok, dan mencabut undang-undang negara darurat tahun 1992. Pada tahun 2001, pemerintah menyetujui serangkaian tuntutan kaum minoritas Berber, termasuk pengakuan resmi bahasa mereka, setelah berbulan-bulan terjadi kerusuhan.

Komentar Anda