Manga – Sebuah Fenomena Budaya

Komik MangaManga adalah buku komik bergaya unik yang diciptakan di Jepang dan memiliki jutaan penggemar di seluruh dunia. Manga penuh dengan karakter yang bisa langsung dikenali dari gambar sederhana mereka, seperti mata bulat dan lebar, serta “rambut besar”. Secara harfiah dalam bahasa Jepang manga berarti “gambar aneh”. Manga yang awalnya menjadi media hiburan bagi anak-anak, kini berkembang menjadi bisnis yang sangat menguntungkan dan telah menghasilkan puluhan majalah laris, anime (animasi), video game, serta menjadi bagian yang tak terpisahkan dari masyarakat Jepang.

Versi kontemporer dari manga bermula pada tahun 1947 ketika Osamu Tezuka, seorang mahasiswa kedokteran berusia 19 tahun, mengkombinasikan dasar-dasar bentuk seni Jepang yang telah ada sejak berabad-abad silam dengan cerita Treasure Island karya penulis Skotlandia Robert Louis Stevenson. New Treasure Island karya Tezuka terjual 400.000 eksemplar dan menjadi perintis sebuah genre yang melampaui batas-batas usia, minat, dan gender.

Sering disebut sebagai bapak manga atau dewa manga, Tezuka juga dikenang karena menciptakan tampilan yang berbeda dari karakter manga, yang dapat dilihat dalam karyanya terbesarnya, Astro Boy, yang diciptakan pada tahun 1952.

Manga biasanya diterbitkan dalam majalah kertas koran setebal 250-850 halaman, masing-masing majalah menampilkan sejumlah cerita berseri. Satu cerita bisa menghabiskan 30 atau 40 halaman, biasanya dengan ending kisah yang menggantung untuk membuat pembaca penasaran dan menunggu kisah sambungannya.

Sebuah seri kisah yang populer dapat berjalan sampai bertahun-tahun. Tezuka masih menuliskan kisah Astro Boy pada tahun 1989, tahun kematiannya atau 37 tahun setelah penciptaan serial itu. Serial yang berjalan lama biasanya dicetak dalam bentuk buku agar pembaca baru bisa membaca kisah-kisah sebelumnya.

mangaSeperti bahasa Jepang, manga dibaca dari kanan ke kiri. Para ahli menunjukkan bahwa meski dalam bentuk cetakan, seni manga cenderung sinematik dan pengaturan frame manga, atau disebut koma, sangat canggih, membuat penyampaian narasi berjalan mulus. Cerita-cerita itu sendiri cenderung didasarkan pada pengembangan karakter, berbeda dengan pengembangan plot ala komik Amerika. Banyak kalangan menilai karakter manga tumbuh dan berkembang, tak seperti kebanyakan komik Amerika. Karakter manga menampilkan etos kerja yang mengagumkan dan mereka tidak hanya fokus memerangi kejahatan seperti komik superhero Amerika.

Perbedaan kontras antara manga dan komik Amerika adalah bahwa fakta-fakta dari satu cerita yang menampilkan karakter atau kelompok karakter tertentu tidak selalu konsisten dengan fakta-fakta dalam cerita lain yang menampilkan karakter sama. Dengan demikian dua karakter mungkin menjadi sahabat baik dalam satu cerita namun menjadi orang asing di cerita lain.

Perbedaan terbesar antara manga dan buku komik lainnya adalah ukuran industri dan integrasi buku komik ini dengan masyarakat Jepang. Orang Jepang menghormati manga sebagai satu bentuk seni dan sastra populer yang terlegitimasi.

Meskipun sebagian besar manga ditargetkan secara spesifik sebagai bacaan anak laki-laki dan perempuan, ada juga karya yang bergambar untuk remaja dan orang dewasa, meliputi genre sastra yang beragam seperti fiksi ilmiah, melodrama, fiksi sejarah, dan cerita-cerita horor.

Manga juga digunakan sebagai catatan perjalanan serta alat pengajaran dan materi pendidikan. Jepang bahkan memiliki banyak kafe manga di mana masyarakat bisa minum kopi sambil membaca kisah-kisah manga terbaru.

Komentar Anda