Fakta dan Mitos Seputar Alergi Makanan

Alergi makanan adalah kondisi medis yang serius karena dalam beberapa kasus dapat menyebabkan gejala yang mengancam jiwa. Meski begitu, banyak orang mempercayai mitos atau meyakini kesalahpahaman tentang alergi makanan. Berikut adalah beberapa mitos yang sering beredar dalam masyarakat dan fakta yang menyanggahnya.

Alergi Makanan

Mitos: Alergi makanan tidak disebabkan oleh faktor lingkungan

Fakta: Sebuah studi terbaru yang dipublikasikan dalam Annals of Allergy, Asthma and Immunology menemukan bahwa diklorofenol dalam tingkat tinggi, bahan kimia yang digunakan dalam klorinasi air, terkait dengan alergi makanan jika ditemukan dalam tubuh seseorang. Zat kimia ini ditemukan dalam air keran, pestisida, dan produk pembasmi hama.

Peneliti menganalisis data dari 10.438 orang di Amerika Serikat dan menemukan bahwa diklorofenol ditemukan dalam urin dari 2.548 orang. Dari kelompok tersebut, 2.211 orang dipelajari lebih lanjut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 411 dari mereka memiliki alergi makanan dan 1.016 dari mereka memiliki alergi lingkungan.

Para peneliti berhipotesis bahwa pencemaran lingkungan berkontribusi pada alergi makanan. Sayangnya, mengganti air keran dengan air minum kemasan tidak memecahkan masalah, karena banyak buah dan sayuran dilapisi dengan bahan kimia pestisida yang sama.

Mitos: Anda tidak dapat mengatasi alergi makanan

Fakta: Anak biasanya mampu mengatasi alergi mereka terhadap telur, susu, dan kedelai. Alergi terhadap kacang biasanya tidak bisa diatasi. Alergi makanan yang paling umum pada bayi dan anak-anak meliputi telur, susu, kacang, kacang pohon, kedelai, dan gandum.

Sebuah penelitian baru menemukan bahwa sekitar setengah dari anak-anak akan mengatasi alergi telur mereka. Peneliti menentukan bahwa 56 persen dari anak-anak yang alergi telur bisa mentolerir telur ayam jika telur dipanggang dalam suhu 350 derajat pada kue dan roti. Mereka juga menyimpulkan bahwa sekitar 55 persen dari anak-anak akan mengatasi alergi telur mereka sepenuhnya.

Dalam studi lain, peneliti utama yang sama menemukan bahwa dari delapan alergi makanan yang paling umum, anak-anak paling mungkin bisa mengatasi alergi telur pada usia 7 tahun, diikuti oleh susu. Tapi, jika seorang anak memiliki reaksi parah terhadap telur di masa lalu, mereka cenderung tidak mampu mengatasinya.

Mitos: Anda tidak dapat mengembangkan alergi makanan setelah masa kanak-kanak

Fakta: Sebenarnya, Anda dapat mengembangkan alergi makanan pada usia berapapun, meskipun alergi umumnya berkembang selama masa kanak-kanak. Jika Anda mengembangkan alergi makanan saat sudah dewasa, Anda lebih mungkin akan mengidap alergi itu seumur hidup. Alergi makanan yang paling umum pada orang dewasa adalah kerang, kacang tanah, kacang pohon, dan ikan.

Menurut NIH, perlu dicatat bahwa makanan yang dimakan secara teratur di negara atau budaya tertentu bisa meningkatkan kemungkinan seseorang mengembangkan alergi terhadap makanan tersebut. Misalnya, alergi beras lebih umum di Jepang ketimbang Amerika Serikat, dan alergi ikan kod lebih sering ditemukan di Skandinavia ketimbang Amerika Serikat.

Mitos: Penyakit celiac, intoleransi gluten, dan intoleransi laktosa adalah alergi makanan

Fakta: Pertama, penyakit celiac dan intoleransi gluten bukanlah hal yang sama. Penyakit celiac adalah hipersensitivitas gluten yang menyebabkan peradangan usus yang parah, sementara intoleransi gluten tidak. Intoleransi gluten akan menyebabkan ketidaknyamanan sampai makanan lewat, tapi tidak menyebabkan peradangan jangka panjang.

Sedangkan celiac memicu antibodi IgA untuk menyerang usus kecil, yang mengganggu fungsi normalnya, tapi antibodi yang sama tidak memicu alergi dan pelepasan histamin. Alergi makanan menyebabkan tubuh memproduksi antibodi IgE, yang melepaskan histamin dan bahan kimia yang berhubungan dengan alergi lainnya. Hal itulah yang menyebabkan risiko serangan alergi, tenggorokan bengkak, dan gatal tubuh.

Sebagaimana intoleransi gluten, intoleransi laktosa bukanlah alergi makanan. Sakit perut dan buang air besar akan baik-baik saja setelah produk susu melewati tubuh. Nah, sekarang Anda sudah bisa membedakan fakta dan mitos seputar alergi makanan.

Komentar Anda