Rabies dari Anjing Bunuh 160 Orang Per Tahun

Vaksin rabies anjing mungkin menjadi faktor tunggal yang berdiri di antara hidup dan mati bagi lebih dari 59.000 orang per tahun di seluruh dunia. Global Alliance for Rabies Control menyatakan hal tersebut dalam laporan terbaru mereka. Selain korban jiwa, rabies juga menimbulkan kerugian ekonomi yang sangat besar.

Anjing jalanan

Sekitar 160 orang per hari meninggal karena rabies anjing yang dapat dicegah, mayoritas di India dan negara-negara berkembang lainnya di mana rumah sakit tidak bisa berbuat banyak untuk memberikan perawatan pada pasien dan kematianpun tidak bisa dihindari. Rabies pada anjing juga menyebabkan kerugian ekonomi tahunan hingga 8,6 milyar dolar AS per tahun di seluruh dunia, ungkap para peneliti.

Penelitian oleh Global Alliance for Rabies Control yang berbasis di London, yang pertama dari jenisnya, mengatakan rabies hampir selalu fatal, tapi hampir 100 persen dapat dicegah. Vaksin anjing dapat mencegah penyakit ini di seluruh dunia, tetapi tidak ada program yang riil untuk mewujudkannya.

”Keberhasilan dalam mengatasi masalah ini bergantung pada investasi dalam kontrol rabies anjing, yang kami lihat sangat kurang,” ungkap penulis utama Katie Hampson dalam laporannya. “Upaya vaksinasi anjing massal jangka panjang dapat mengurangi biaya sektor medis dan sosial, dan eliminasi bisa dilakukan dengan metode yang tersedia saat ini, namun model pembiayaan inovatif diperlukan untuk mengatasi hambatan institusional.”

Eliminasi rabies di sebagian besar negara maju menunjukkan kemajuan signifikan. Di Amerika Serikat, kasus rabies pada manusia menurun dari 100 kasus atau lebih per tahun pada pergantian abad menjadi rata-rata 2 atau 3 kasus per tahun. Centers for Disease Control and Prevention (CDC) mengatakan program vaksinasi yang agresif untuk hewan dan manusia telah mampu mengatasi penyakit ini.

Pada tahun 2010, CDC melaporkan ada 6.154 hewan rabies, kebanyakan rakun. Pada tahun 2011, empat orang meninggal akibat rabies; dua terinfeksi oleh anjing gila di luar negeri, satu digigit kelelawar, dan sumber infeksi keempat tidak diketahui. Louis Nel, direktur eksekutif Global Alliance for Rabies Control, mengatakan bahwa penelitian ini membawa para ilmuwan selangkah lebih dekat untuk membantu korban rabies.

“Studi terobosan ini merupakan langkah penting menuju perbaikan kontrol dan pengurangan rabies,” katanya. “Pemahaman tentang beban yang sebenarnya membantu kita untuk menentukan dan mengadvokasi sumber daya yang dibutuhkan untuk mengatasi penyakit mematikan ini.”

Komentar Anda