10 Mitos Menyesatkan Tentang Gula yang Perlu Diketahui

Tahukah Anda bahwa gula bukanlah penyebab diabetes? Gula telah mendapatkan reputasi buruk akhir-akhir ini. Gula dianggap sebagai penyebab banyak penyakit mulai dari obesitas, diabetes, penyakit jantung, penyakit ginjal, hingga stroke. Tapi apakah gula benar-benar seburuk itu? Ataukah banyak informasi keliru yang beredar tentang gula? Berikut kami hadirkan 10 mitos tentang gula yang patut Anda ketahui.

Gula

LINE

10. Konsumsi gula bisa dibatasi dengan mudah

Banyak orang begitu ingin membatasi konsumsi gulanya. Namun faktanya, gula sebenarnya merupakan zat adiktif. Penelitian pada hewan menunjukkan konsumsi gula menyebabkan ketagihan. Memakan gula secara teratur juga membuat seseorang lebih mudah kecanduan obat lain. Pada manusia, mengonsumsi fruktosa (bentuk gula) menyebabkan pusat ganjaran (reward center) menyala. Namun, seperti obat, dari waktu ke waktu subjek akan merasa perlu mengonsumsi lebih banyak lagi fruktosa agar pusat ganjaran menyala lebih terang.

Penelitian tambahan menunjukkan gula dan manisan benar-benar dapat menjadi lebih adiktif dan menarik daripada obat-obatan terlarang. Tampaknya sedikit tidak masuk akal, tapi penjelasan yang mungkin, kata para ilmuwan, adalah adanya kebutuhan evolusioner manusia untuk mengonsumsi makanan tinggi kalori dan gula. Masalah lain: Gula ditambahkan ke banyak makanan yang mungkin tak Anda ketahui. Gula ada dalam saus tomat, oatmeal instan, dan saus spaghetti, dan lainnya.

9. Gula tambahan tidak baik untuk Anda

Pada tahun 2014, American Heart Association (AHA) merekomendasikan orang Amerika untuk memangkas konsumsi gula mereka dari rata-rata 20 sendok teh (80 gram) sehari menjadi enam sdt (24 gram) untuk wanita dan sembilan sdt (36 gram) untuk laki-laki. Mereka mencatat bahwa gula tambahan sangat mengkhawatirkan. Gula tambahan adalah gula atau sirup yang ditambahkan ke dalam berbagai makanan dan minuman selama pemrosesan atau persiapan. Gula ini bisa diproduksi secara alami (misalnya madu) atau kimiawi (misalnya sirup jagung berfruktosa tinggi). Gula tambahan dianggap mengganggu karena tidak memberikan nutrisi -hanya kalori yang berlebihan.

Namun Anda tidak perlu menyingkirkan semua gula tambahan dari makanan Anda. Gula tidak memiliki nilai gizi, tetapi bisa meningkatkan rasa makanan yang memberikan nutrisi penting, seperti sereal gandum atau yogurt. Jadi jika Anda menaburkan gula pada minuman yang sehat, misalnya yogurt atau susu murni, maka konsumsi gula tambahan tidak jadi masalah. Untungnya, dalam kebanyakan kasus, yang Anda butuhkan hanyalah sedikit gula untuk mencapai rasa yang memuaskan. Itulah mengapa lebih baik membeli produk tanpa tambahan gula lalu tambahkan sedikit gula ketimbang membeli produk “biasa” yang sudah sepenuhnya manis.

8. Pemanis buatan lebih sehat dari gula

Banyak orang yang sadar kesehatan memilih pemanis buatan untuk makanan mereka, salah satu alasannya karena tidak mengandung kalori. Memang benar pemanis buatan tidak mengandung kalori, tapi pemanis buatan tidaklah sebaik yang Anda kira. FDA menganggap pemanis buatan aman, tetapi para ahli mengatakan efek jangka panjangnya masih belum diketahui.

Ada banyak penelitian yang memberi nilai merah. Sebagai contoh, sebuah penelitian yang dilakukan oleh para peneliti di Yale University School of Medicine menemukan makan makanan berpemanis buatan yang rendah kalori dapat menyebabkan Anda mengonsumsi makanan tinggi kalori makanan di kemudian hari, terutama jika Anda makan makanan berpemanis buatan ketika sedang lelah atau lapar. Pemanis buatan tidak mengirim sinyal “energi” ke otak sebagaimana gula biasa.

Selain itu, banyak orang yang bergantung pada pemanis buatan cenderung (atau sengaja) makan sedikit lebih banyak di sepanjang hari. Misalnya, mereka telah menghindari kalori karena telah mencampurkan pemanis buatan dalam kopi atau tehnya, jadi rasanya tidak apa-apa untuk menyantap hamburger atau kentang goreng. Kesimpulannya, lebih baik Anda makan sedikit gula asli daripada menggantinya dengan pemanis buatan.

7. Gula merah lebih baik dari gula meja

Gula merah tampak begitu menarik, dengan warna karamel dan bentuk menggumpal. Pemanis ini organik, tidak halus seperti gula meja, dan bisa ditemukan dalam banyak produk kesehatan -jadi pasti gula ini sehat untuk Anda. Padahal sebenarnya tidak. Baik gula merah maupun gula meja berasal dari tebu, meskipun gula meja juga bisa berasal dari bit. Gula merah tercipta ketika air tebu direbus sekali. Proses ini menciptakan molase dalam produk serta warna emas. Sedangkan gula meja berasal dari air tebu yang direbus beberapa kali, proses yang menghilangkan semua molase, sehingga warnanya putih.

Beberapa pendukung gula merah mengklaim molase yang tersisa dalam gula mengandung sejumlah nutrisi yang berharga untuk tubuh. Tapi kebanyakan ahli mengatakan bahwa hanya ada sedikit nutrisi yang tersisa -sejumlah kecil yang tidak berdampak pada kesehatan kita. Dan sebagai catatan tambahan: Gula merah dan gula halus memiliki jumlah kalori yang sama. Jadi meski diproses secara berbeda, keduanya benar-benar sangat identik.

Next

Komentar Anda