Misteri-misteri yang Melingkupi Sphinx Agung

Di antara cakar Sphinx berdiri prasasti “Dream Stela” dari Raja Thutmose IV, penguasa era Kerajaan Baru 1400-1390 SM. Prasasti ini menceritakan kisah Thutmose muda, yang pada suatu hari tertidur dalam bayangan Sphinx. Dalam mimpinya, Sphinx muncul di hadapan Thutmose sebagai dewa matahari, Horus, dan meminta perlindungan dari pasir yang mengganggu. Sebagai gantinya, Sphinx menjanjikan mahkota Mesir pada Thutmose. Keduanya sepakat dan calon Firaun ini melakukan salah satu restorasi kuno pertama Sphinx.

Sphinx Agung

Seiring waktu, angin dan pasir dari dataran tinggi Giza merusak Sphinx, mengubah wajah kolosalnya menjadi wajah lain yang menakutkan. Bahkan, nama Arab untuk Sphinx adalah Abu-Hol, atau Bapak Teror.

Perangai mistik Sphinx ini telah menarik berbagai teori tentang apakah makhluk ini memiliki asal usul supranatural -termasuk kemungkinan hubungannya dengan Kota yang Hilang Atlantis. Hubungan antara Mesir-Atlantis telah ada sejak Plato pertama kali menulis tentang peradaban utopis.

Sekitar pergantian abad ke-20, seorang cenayang asal Amerika bernama Edgar Allan Cayce mengatakan ia memiliki penglihatan tentang ruangan di bawah Sphinx yang memegang rahasia keberadaan Atlantis. Cayce, yang meninggal dunia pada tahun 1945, mengklaim ruang ini akan ditemukan pada tahun 1998.

Tidak ada yang menemukan ruang Atlantis itu, namun ahli geologi dan sejarawan amatir tetap memperjuangkan gagasan itu dengan cara mempertanyakan usia Sphinx yang sudah diterima secara luas. Pada tahun 1996, sepasang ahli Mesir Kuno kontroversial mengklaim bahwa hujan, bukan hanya angin dan pasir, menyebabkan erosi yang signifikan pada Sphinx; beberapa geolog mendukung klaim mereka. Mengingat iklim prasejarah yang lembab di kawasan itu telah bergeser ke kondisi kering pada sekitar tahun 4.000 SM, kerusakan yang ditimbulkan hujan menunjukkan bahwa Sphinx sudah dibangun sebelum masa Khafre.

Gaya Sphinx yang berbeda dibandingkan dengan struktur di sekitarnya serta rasio ukurannya yang tidak proporsional dari kepala hingga tubuh juga menyebabkan para peneliti mempertanyakan usia reliknya. Jika teori mereka benar, berarti ada suatu masyarakat yang sangat maju yang mendahului peradaban Mesir, lalu menghilang dari sejarah tanpa jejak.

Zahi Hawass, Sekretaris Jenderal Dewan Tertinggi Barang Antik Mesir, menganggap dugaan tersebut hanyalah omong kosong yang sensasional. Tidak ada artefak lainnya dari Giza Necropolis yang mendahului Mesir kuno, dan penelitian seismik tidak mengungkapkan adanya rongga tersembunyi di bawah Sphinx. Bagi Hawass dan arkeolog lainnya, satu-satunya teka-teki Sphinx yang belum terpecahkan adalah bagaimana cara melindunginya dari pengrusakan oleh waktu.

Komentar Anda