Saudi Arabia, Sekutu Terdekat AS yang Hobi Penggal Kepala

Video seorang tahanan yang dipenggal di jalanan Saudi Arabia bocor secara online Sabtu. Korbannya, Layla Abdul Mutaleb Bassim, berasal dari Myanmar dan dituduh membunuh putrinya yang berusia 6 tahun. Bassim berteriak bahwa dia tidak bersalah saat algojo siap untuk memenggal kepalanya. Bassim hanyalah satu dari 10 orang yang telah dipenggal secara publik hanya dalam dua setengah minggu pertama di tahun 2015 di Arab Saudi, salah satu sekutu terdekat Amerika Serikat di Timur Tengah.

Pemenggalan Kepala di Arab Saudi

Monarki Arab Saudi memiliki salah satu catatan pelanggaran hak asasi manusia terburuk di dunia. Menurut Human Rights Watch, wanita dilarang bepergian, melakukan bisnis, atau bahkan menjalani prosedur medis tertentu tanpa persetujuan dari suami mereka. Wanita juga dilarang mengemudi, bermain olahraga, atau mengenakan apapun kecuali jubah di seluruh tubuh di depan umum.

Pelecehan dan kekerasan terhadap buruh migran juga merajalela. Sistem peradilan pidana melakukan “pelanggaran sistematis terhadap proses hukum dan hak-hak pengadilan yang adil, termasuk penangkapan sewenang-wenang dan penyiksaan serta perlakuan buruk dalam tahanan.” Penyiksaan dan eksekusi brutal umum terjadi, sementara kebebasan berbicara sama sekali tidak ada.

Tahun lalu, Arab Saudi memenggal kepala 90 orang. 10 eksekusi hanya dalam beberapa minggu pertama 2015 adalah indikasi lain bahwa gelombang eksekusi yang dimulai pada bulan Agustus 2014 tidak melambat. Hal ini memperlihatkan kemunafikan Amerika, mengingat negara adidaya ini mengecam pemenggalan massal yang dilakukan oleh kelompok ISIS sambil diam-diam menoleransi apa yang dilakukan oleh House of Saud.

Demo Terhadap Arab Saudi

Korban terbaru lainnya dari pemerintahan Saudi meliputi orang-orang yang dipenjara karena pelanggaran yang meragukan mulai dari mengkritik Islam di Twitter hingga mengoperasikan forum online. Pada kesempatan itu, hukuman mati digunakan sebagai hukuman seperti “sihir.”

Arab Saudi menikmati hubungan khusus dengan AS di mana pelanggaran serampangan terhadap hak asasi manusia pada dasarnya tidak masuk dalam hitungan. Selain beberapa kasus besar seperti cambuk brutal baru-baru ini terhadap blogger Raif Badawi, Human Rights Watch melaporkan bahwa AS umumnya tidak mengkritik pemerintah Saudi kecuali dalam laporan tahunan.

Arab Saudi adalah sekutu militer kunci AS dalam Perang Melawan Terorisme, menjadi penerima keuntungan lebih dari 20 miliar dolar AS dari penjualan senjata yang diusulkan sejak tahun 2012. Kekuatan finansial dan kepentingan kerajaan ini dalam sektor energi global telah membuatnya menjadi mitra daerah yang tak tergantikan.

AS juga memandang Arab Saudi sebagai sumber stabilitas regional, meskipun fakta bahwa stabilitas tersebut harus ditegakkan melalui kebrutalan luas dan pemerintahan otokratis tampaknya menjadi perhatian sekunder (tak peduli bahwa mereka secara agresif mendukung terorisme). Dan ya, Saudi menjual banyak minyak pada Amerika Serikat, Eropa, dan Asia dan merupakan anggota kuat OPEC, kartel energi yang memegang 80% dari minyak cadangan konvensional dunia.

“Ada kemungkinan eksekusi digunakan sebagai intimidasi dan unjuk gigi. Ini adalah waktu yang sangat fluktuatif dan eksekusi membantu mencapai tujuan ketika dilakukan secara masal,” kata visiting profesor London School of Economics, Madawi al-Rasheed, pada Reuters. “Ada ketidakpastian di sekitar Arab Saudi dari utara dan dari selatan, dan di dalam mereka mengambil tindakan agresif bersama AS terhadap ISIS, dan semua itu menciptakan semacam pergolakan yang coba dikontrol oleh hukuman mati.”

Baru secuil kisah dari hubungan fundamental munafik ini yang muncul ke permukaan, yang berarti bahwa akan banyak cerita mengerikan seperti Bassim muncul dari Arab Saudi, dan Amerika Serikat kemungkinan akan terus menutup mata. Hal ini cukup mengerikan, bahkan meskipun Amerika dikenal memiliki kebiasaan mendukung diktator di seluruh dunia.

Komentar Anda