Fakta Kejam di Balik Hari Lajang di China

Menurut statistik, pria di China memiliki peluang kencan terkecil di dunia. Hari Lajang (Singles’ Day atau Guanggun Jie) di China -kebalikan Valentine yang berubah menjadi event belanja online besar-besaran- ramai diberitakan di mana-mana.

Pasangan di China
Credit: english.people.com.cn

Hari yang diperingati setiap tanggal 11 November ini menjadi saat bagi orang-orang lajang membeli hadiah untuk dirinya sendiri, atau mendapatkan hadiah dari teman-teman mereka yang sudah punya pasangan.

Ada alasan sosiologis tertentu yang bermain di belakang ‘perayaan’ kehidupan lajang China. Dan ketidakseimbangan ini bisa memiliki konsekuensi yang besar bagi negara. Semakin banyak orang China yang masih lajang, tetapi mereka sebenarnya tidak ingin menjadi lajang. Mengapa? Karena jumlah wanita di China tidak terlalu banyak.

Pada tahun 2011, selisih jumlah pria dengan wanita di China mencapai 34 juta orang. Angka ini cukup natural -biasanya ada 105 kelahiran anak laki-laki berbanding 100 kelahiran anak perempuan. Tapi rasio gender China saat lahir jauh lebih mencolok, yakni 116 laki-laki berbanding 100 perempuan pada tahun 2012.

Fakta kejam di balik Hari Lajang

Kebijakan satu anak sebagian besar patut dikambinghitamkan. Kebijakan yang bertujuan untuk mengekang ledakan populasi ini hanya memperbolehkan satu anak per keluarga (sekarang ada berbagai pengecualian, termasuk bagi keluarga yang anak pertamanya adalah seorang perempuan).

Tapi karena anak laki-laki dipandang lebih berharga, karena dianggap bisa mangayomi orang tua mereka di usia tua, beberapa orang tua memilih untuk memiliki seorang putra ketimbang putri melalui aborsi selektif, pembunuhan dan penelantaran bayi perempuan.

Satu studi yang dikutip secara luas memperkirakan jumlah anak perempuan yang dibuang oleh penduduk China antara tahun 1980 hingga 2000 sebesar 8,5 juta jiwa.

94% dari orang-orang yang belum menikah di China adalah pria

Hasilnya? Kelebihan jumlah pria yang mungkin tidak akan pernah menikah. Bahkan, sebuah penelitian telah meramalkan bahwa pada tahun 2030, 1 dari 5 pria China berusia 30-an tidak akan pernah menikah, sementara penelitian lain menyatakan bahwa 94% dari orang-orang yang belum menikah di China adalah pria.

Ini adalah masalah yang akrab bagi sosiolog. Hal yang sama pernah terjadi yaitu setelah Perang Dunia I di mana banyak pria tewas terbunuh dan surplus wanita terjadi.

Pria beralih ke pasar jodoh untuk mencari pasangan

Pasar Jodoh China
Credit: mirror.co.uk

Beberapa orang tua berusaha untuk mencarikan pasangan bagi anak-anak mereka di “pasar fisik”, di mana orang-orang memosting iklan pribadi merinci karakteristik mereka, serta pekerjaan dan prestasi pendidikan mereka.

Secara tradisional, tingkat pernikahan di China tinggi, biasanya di kalangan anak muda, tetapi langkah-langkah yang dibawa oleh pemerintah, serta peningkatan pendidikan dan peluang karir bagi wanita membuat pernikahan bisa ditunda di kemudian hari.

Ini juga tradisional bahwa perempuan China menikahi pria dari kalangan sosial ekonomi yang lebih tinggi dari mereka. Jadi, wanita dari kalangan atas dan pria dari kalangan bawah biasanya akan (terpaksa) melajang. Itulah masalah besar dalam masyarakat yang masih berfokus pada kehidupan keluarga ideal.

Satu studi bahkan menyatakan adanya hubungan antara rasio seks tak seimbang dan pertumbuhan kejahatan kekerasan di negara itu.

Belanja di Hari Lajang tidak bisa menghentikan masalah sosial

Ada sejumlah besar anak muda China yang melajang dan pengusaha China telah menguasai pasar itu dengan agresif. Tapi Hari Lajang tidak bisa menyelesaikan semua masalah yang dihadapi kaum lajang China.

Memang, hal ini bisa menyebabkan lebih banyak masalah, yaitu saat pria bersedia melakukan pekerjaan berisiko tinggi demi meningkatkan kesempatan mereka untuk mendapatkan uang dan akhirnya mendapatkan seorang istri. Dan saat kapitalisme mulai mengatasi asmara, ada bukti bahwa pasar perkawinan China semakin materialistis.

Dan yang harus diingat, rasio kelahiran pria dan perempuan masih jauh lebih tinggi daripada normal. Hal ini mengisyaratkan akan ada masalah bagi generasi mendatang.

Komentar Anda