Fakta Pembangunan Kuil-Piramida Suku Maya

Piramida Maya berdiri sebagai salah satu prestasi arsitektur yang paling mengesankan dari dunia kuno. Dirancang dengan seksama dan membutuhkan usaha besar-besaran manusia untuk membangunnya, piramida ini menceritakan kisah masyarakat yang sangat terorganisir dengan pencapaian unik dalam bidang bahasa, astronomi dan matematika. Di saat yang sama, penggambaran pengorbanan manusia dan ritual darah yang mengerikan pada dinding kuil menceritakan kisah gelap hierarki brutal dan penindasan keras.

Foto Piramida Suku Maya

Maya adalah kelompok suku asli Amerika yang dihubungkan dengan bahasa dan budaya tetapi tidak pernah bersatu secara politik. Diorganisir dalam bentuk negara-kota terpisah dan sering berperang, peradaban mereka membentang dari Semenanjung Yucatan di Meksiko selatan hingga ke wilayah yang kini menjadi Honduras dan El Salvador. Maya muncul pada awal 2000 SM dan bertahan dalam beberapa bentuk sampai penaklukan Spanyol di tahun 1600-an. Pusat kota dan piramida yang paling terkenal dibangun selama Periode Klasik antara tahun 200 dan 900 M.

Piramida khas Maya adalah serangkaian platform berundak dengan sebuah kuil kecil yang dibangun di atasnya. Atap kuil sering dihiasi dengan struktur yang disebut “atap-sisir,” dihiasi dengan gambar-gambar kudus dalam relief semen. Tangga curam berjajar di sisi piramida di mana para pendeta akan naik untuk melakukan upacara.

Interior kuil mencakup satu atau lebih kamar yang disediakan untuk ritual rahasia. Piramida adalah bagian dari kompleks bangunan yang lebih besar, termasuk istana dan gedung pengadilan, disusun di sekitar alun-alun atau halaman luas. Kuil-piramida biasanya merupakan bangunan tertinggi di sebuah kompleks, tingginya bisa mencapai setinggi 70 meter di atas tanah.

Tenaga kerja besar dibutuhkan untuk membangun piramida. Blok batu kapur dalam jumlah besar, bahan bangunan utama, harus digali dan diangkut ke lokasi konstruksi tanpa bantuan hewan pengangkut. Buruh dan pengawas, arsitek dan insinyur, pandai besi dan pengrajin semua memiliki peran untuk pembangunan piramida Maya.

Inti dari piramida itu terbuat dari campuran tanah dan puing-puing. Buruh kemudian memotong dan membentuk lempengan batu kapur untuk eksterior, menggunakan pahat batu dan palu kayu. Mereka membakar batu kapur menjadi bubuk dan mencampurnya dengan air untuk membuat perekat berbasis kapur. Ini digunakan sebagai mortar untuk menahan batu bersama-sama, sebagai pelapis untuk dinding, dan sebagai semen untuk menghias kuil dengan ukiran relief.

Beberapa piramida (tetapi tidak semua) berfungsi sebagai ruang pemakaman raja-raja. Kompleks candi lain dirancang secara tepat untuk menandai posisi matahari saat matahari terbit. Tapi fungsi utama dari piramida Maya adalah untuk keperluan agama. Suku Maya menyembah dewa-dewa yang bertanggung jawab atas matahari, hujan, dan tanah yang menjamin pasokan makanan. Kuil-piramida didedikasikan untuk menghormati dan menenangkan para dewa melalui ritual sakral, termasuk ritual mengerikan pengorbanan manusia dan pertumpahan darah.

Banyak hal yang kita ketahui tentang budaya Maya kuno berasal dari penggalian dan penelitian kompleks kuil-piramida. Suku Maya memiliki sistem penulisan hieroglif yang sangat maju, yang tertulis dalam buku yang disebut kodeks, serta pada dinding kuil dan monumen sekitarnya. Ketika bangsa Spanyol menyerbu Maya di tahun 1600-an, sebagian besar naskah kuno tersebut dibakar dalam upaya untuk melenyapkan agama dan kebudayaan Maya. Tapi monumen dan kuil-kuil tetap berdiri tegak sampai hari ini. Sejauh ini, 80 persen dari tulisan Maya telah diterjemahkan, dan prasasti kuil terus menceritakan kisah tentang jatuh bangunnya peradaban Maya.

Komentar Anda