Mengenal Karakteristik Sabana Afrika

Sabana adalah padang rumput tropis. Setengah dari wilayah Afrika ditutupi sabana, yang merupakan ruang terbuka besar. Tapi di beberapa tempat, sabana juga memiliki pohon-pohon dan semak-semak yang tersebar. Sabana Afrika menjadi habitat bagi berbagai macam hewan.

Foto Sabana Afrika

Di Afrika, iklim tidak didefinisikan oleh suhu. Benua ini panas hampir di mana-mana. Iklim ditentukan oleh curah hujan. Sabana menerima 250 sampai 1.270 milimeter curah hujan per tahun. Musim hujan di sabana Afrika utara terjadi pada bulan Juni, Juli, dan Agustus. Sabana selatan juga memiliki musim hujan di bulan Desember, Januari, dan Februari.

Dimana letak sabana?

Khatulistiwa melintasi tengah Afrika. Di sepanjang khatulistiwa ada sabuk hutan hujan tropis. Sabana Afrika membentuk setengah lingkaran besar di sekitar hutan hujan. Jauh dari hutan hujan, padang rumput mengering dan bergabung menjadi gurun Afrika. Padang pasir berada di dua sabuk itu. Gurun raksasa Sahara ada di utara dan terletak antara 20 dan 30° lintang utara. Gurun Namib dan Kalahari ada di selatan, terletak antara 20 dan 30° lintang selatan.

Angin muson di sepanjang pantai timur Afrika membawa curah hujan musimannya sendiri. Hal ini menciptakan daerah sabana tambahan di Afrika Timur.

Vegetasi

Dekat hutan hujan, rumput dan beberapa bidang hutan tumbuh di sabana. Daerah ini disebut sebagai sabana pohon. Musim kemarau di sana berlangsung tiga bulan atau kurang.

Lebih jauh dari hutan hujan, musim kemarau berlangsung selama enam bulan. Ada rumput berlimpah saat musim hujan. Tetapi selama musim kemarau, rumput dan semak duri berubah menjadi cokelat. Pohon baobab tumbuh di ketinggian rendah. Buahnya dapat dimakan. Beberapa orang Afrika menggunakan batangnya yang besar untuk menyimpan air.

Zona sabana dekat gurun mendapatkan sedikit hujan. Daerah ini menjadi tempat tumbuh akasia, semak berduri, dan rumput gurun yang tahan kekeringan. Musim panas yang sangat panas dan vegetasi yang jarang menghalau lalat tsetse Afrika, pembawa penyakit serius. Dengan demikian sapi dan domba dapat merumput di sabana kering.

Kehidupan liar

Sabana Afrika memiliki jenis hewan besar terbanyak daripada wilayah manapun di dunia. Padang rumputnya menyediakan makanan bagi berbagai jenis antelop, seperti eland raksasa, duiker kecil, dan dik-dik. Hewan pemakan tumbuhan lainnya adalah jerapah, zebra, dan badak.

Beberapa hewan pemakan tumbuhan menjadi mangsa bagi hewan pemakan daging, seperti singa, macan tutul, hyena, dan serigala. Namun jumlah hewan liar besar semakin berkurang. Gajah diburu untuk diambil gadingnya. Perburuan besar menjadikan hewan liar sebagai makanan. Banyak hewan telah dibunuh karena mereka merusak tanaman. Di daerah pertanian, hewan liar besar sekarang langka.

Sebagian besar dari 2.300 spesies burung Afrika ditemukan di sabana. Ada bebek dan angsa. Ada juga kuntul, warbler, elang, dan burung hantu. Padang rumput terbuka juga menyediakan rumah bagi elang, bustard, dan falkon. Danau dan rawa menarik banyak burung bangau, flamingo, dan pelikan.

Taman nasional Afrika menjadi tempat di mana orang masih dapat melihat binatang liar. Serengeti National Park ada di Tanzania. Didirikan pada tahun 1951, taman nasional ini meluas ke timur dan selatan Danau Victoria. Luasnya sekitar 14.760 kilometer persegi. Padang rumput ini menawarkan habitat alami bagi hewan besar. Gajah, singa, dan jerapah tinggal di sana. Serengeti juga terhubung ke Masai Mara National Reserve di Kenya. Hal ini memungkinkan hewan mengikuti migrasi musiman mereka.

Ancaman pada sabana

Padang rumput bisa sangat produktif, tapi juga mudah hancur. Desertifikasi atau penggurunan adalah proses dimana lahan produktif berubah menjadi gurun tandus. Proses ini terjadi secara alami. Tapi penggurunan juga disebabkan oleh penggunaan lahan yang tidak tepat. Sekitar 2,3 juta hektar sabana Afrika hilang setiap tahunnya karena pertanian dan penggembalaan.

Penghancuran sabana dapat menyebabkan pemanasan global. Kelebihan karbon dioksida di atmosfer memerangkap panas matahari. Hal ini menyebabkan suhu global meningkat. Sabana rumput menyerap karbon dioksida dan mengubahnya menjadi bahan organik (bahan yang mengandung karbon). Rumput menyerap karbon dioksida dari atmosfer sehingga tidak membahayakannya.

Di Afrika, pemanasan global menyebabkan daerah kering menjadi lebih kering. Daerah-daerah kering ini kemudian tidak dapat mendukung kehidupan tumbuhan atau hewan. Perubahan ini hanya menambah kesulitan Afrika dalam menjaga pasokan makanan yang memadai bagi rakyatnya.

Komentar Anda