Profil dan Sejarah Negara Korea Utara

Korea Utara adalah salah satu dari sedikit negara komunis yang masih tersisa di dunia. Nama resminya adalah Republik Demokratik Rakyat Korea (DPRK). Negara ini terletak di bagian utara Semenanjung Korea. Laut Timur (atau Laut Jepang) berbatasan dengan Korut di timur, Laut Kuning di barat, Korea Selatan di selatan, dan China serta Rusia di utara. Perbatasan Korea Utara dengan China panjang dan berpegunungan. Perbatasan dengan Rusia sangat sempit, tapi menjadi jalur dengan sekutu yang penting.

Foto Korea Utara

Korea terbagi setelah Perang Dunia II (1939-1945). Pada saat itu, Amerika Serikat dan kemudian sekutunya, Uni Soviet, secara temporer membagi semenanjung utara dan selatan. Setelah tiga tahun, dua sektor itu tidak bisa menemukan cara untuk membentuk satu pemerintah. Mereka membentuk dua negara terpisah, masing-masing mengaku sebagai pemerintah tunggal dan sah Korea.

Pada tanggal 25 Juni 1950, Korea Utara menginvasi Korea Selatan dalam upaya untuk menyatukan negara di bawah rezim Komunis. Korea Selatan, dengan bantuan pasukan dari Amerika Serikat dan PBB, menangkis serangan tentara Korea Utara dengan biaya besar.

Sampai hari ini, Korea tetap terbagi. Banyak kalangan di kedua belah pihak berharap untuk melakukann reunifikasi damai. Tapi prioritas pertama Korea Utara adalah mengakhiri siklus kelaparan yang melanda negara itu dalam beberapa tahun terakhir.

Mulai tahun 2006, Korea Utara menguji senjata dan rudal nuklir. Tindakan ini melawan hukum internasional. Hubungan antara Korea Utara dengan Korea Selatan serta sekutunya, Amerika Serikat, semakin memburuk dan jatuh ke level terendah.

Peta Politik Korea Utara

Penduduk

Lebih dari 25 juta orang tinggal di Korea Utara. Mereka jauh terkait dengan orang China dan secara etnis berbeda dengan mereka. Tapi orang Korea Utara lebih dekat dengan orang timur laut China (sebelumnya disebut Manchuria) dan orang-orang dari Mongolia.

Bahasa

Bahasa Korea adalah bahasa Altai, yang berada dalam keluarga bahasa yang sama dengan bahasa Manchuria (atau Tungusik), bahasa Mongolia, bahasa Turki, dan sampai batas tertentu, bahasa Jepang. Bahasa Korea tidak berhubungan dengan bahasa China, tapi telah menggunakan karakter China untuk menulis bahasa mereka, dan kata-kata China tertanam dalam bahasa Korea.

Pada tahun 1440-an, Korea mengembangkan alfabet sendiri (disebut Chosŏn-gul di Korea Utara dan hangul di Korea Selatan). Hari ini di Korea Utara, sebagian besar dokumen, surat kabar, tanda-tanda, dan sejenisnya ditulis dalam alfabet Korea.

Agama

Korea Utara adalah negara komunis yang ketat, di mana semua bentuk agama akan diberangus. Tapi agama diam-diam dipraktekkan di beberapa daerah. Agama-agama tradisional Korea meliputi shamanisme (agama rakyat formal) dan Budha. Orang Korea Utara juga menganut Konfusianisme, filsafat yang mengajarkan perilaku yang bertanggung jawab dan etis. Agama Kristen dan beberapa agama yang lebih baru, seperti Ch’ŏndokyo (“agama cara surgawi”), juga memiliki pengikut di Korea Utara.

Pendidikan

Anak-anak di Korea Utara diharuskan untuk bersekolah selama sebelas tahun, dimulai dengan prasekolah. Setelah itu, sekolah teknis dan perguruan tinggi disediakan. Tingkat melek huruf mendekati 100 persen. Korea Utara memiliki beberapa sekolah pendidikan tinggi. Kim Il Sung University di P’yŏngyang adalah yang paling bergengsi. Lulusan sekolah bisa meneruskan studi lanjutan.

Makanan

Makanan di Korea Utara biasanya dibuat dalam potongan-potongan kecil, dan sebagian besar dimakan dengan sumpit. Pengaturan meja tradisional mencakup sepasang sumpit dan sendok, semangkuk nasi, dan semangkuk sup. Berbagai hidangan ditempatkan di tengah meja dan dibagi oleh semua orang. Hidangan disiapkan dengan bumbu gurih. Lauk khas Korea, kimchi, adalah acar kubis dengan paprika merah pedas. Seafood digemari karena memberikan sebagian besar protein dalam makanan. Tapi unggas, babi, dan daging sapi juga disajikan. Tauge, bean curd (juga dikenal sebagai tofu), dan hidangan kacang lainnya juga sering dihidangkan.

Perumahan

Rumah-rumah tradisional Korea dibangun agar selaras dengan alam. Kebanyakan rumah adalah bangunan berlantai satu. Atapnya dari jerami atau genting. Atap genting menunjukkan status kekayaan. Setiap kamar terbuka ke halaman umum. Di wilayah utara dan pegunungan, halaman sering tertutup untuk melindungi keluarga dari musim dingin. Keluarga urban saat ini tinggal di gedung-gedung apartemen bertingkat tinggi. Baik dalam rumah tradisional dan modern, orang Korea menggunakan sistem pemanas ŏndol. Sistem ini memanaskan setiap kamar dari bawah lantai.

Olahraga dan Rekreasi

Korea Utara adalah peserta setia Olimpiade, Asian Games, Piala Dunia, dan kompetisi internasional lainnya. Mereka menikmati banyak olahraga Barat, seperti basket, sepak bola, dan bola voli. Mereka juga memiliki olahraga unik sendiri, seperti tae kwon do (salah satu seni bela diri) dan ssirŭm, semacam gulat. Anak-anak suka menerbangkan layang-layang dan bermain dengan baju atasan, yang mereka putar-putar selama berjam-jam.

Bentang Alam

Korea Utara memiliki tiga wilayah alam, yakni adalah Dataran Rendah Pesisir Timur, Pegunungan Utara, dan Dataran Barat Laut. Wilayah terbesar adalah Pegunungan Utara, yang mencakup pegunungan Kangnam, Nangnim, dan Hamgyong. Puncak tertinggi, Gunung Paektu, merupakan gunung berapi punah di Pegunungan Mach’ŏl. Tingginya 2.750 meter di perbatasan antara Korea Utara dan China.

Hanya sekitar seperlima dari lahan tersebut yang cocok untuk pertanian. Budidaya padi dan tanaman pertanian lainnya kebanyakan dilakukan di Dataran Barat Laut. Lembah luas di daerah ini adalah tempat tinggal bagi sebagian besar rakyat Korea Utara.

Sungai dan Perairan Pesisir

Korea Utara dibatasi di timur oleh Laut Timur (Laut Jepang). Di sebelah barat adalah Laut Kuning dan lengan utaranya, Korea Bay. Sungai Yalu membentuk perbatasan barat laut dengan China. Sungai Tumen membentuk perbatasan di timur laut dengan Rusia. Sungai Taedong mengalir melalui P’yŏngyang ke Laut Kuning, sedang Sungai Imjin merupakan bagian dari perbatasan dengan Korea Selatan.

Iklim

Korea memiliki dua musim muson, satu di musim panas dan satu lagi di musim dingin. Angin muson musim panas berhembus setiap bulan Juli atau Agustus. Angin ini membawa cuaca panas dan lembab, serta cukup hujan untuk menjaga waduk tetap terisi selama setahun. Sebaliknya, angin musim dingin membawa udara kering dan dingin. Di P’yŏngyang, rata-rata temperatur Juli sekitar 25 °C. Pada bulan Januari, suhunya sekitar -8 C°.

Sumber Daya Alam

Sumber mineral Korea Utara meliputi emas, batubara, dan berbagai jenis bijih. Sungai-sungai dibendung dan dimanfaatkan untuk pembangkit listrik tenaga air, serta irigasi. Bukit-bukit dulu berhutan dan lebat, tapi sekarang banyak yang dibalak untuk diambil kayu dan bahan bakarnya.

Beberapa praktek pertanian telah meninggalkan banyak tanah yang rentan terhadap erosi. Dalam beberapa tahun terakhir, tanaman telah dirusak oleh banjir dan kekeringan. Akibatnya, pertanian tidak bisa memproduksi cukup makanan untuk memberi makan penduduk. Kelaparan telah menjadi perhatian besar. Korea Utara telah bergantung pada bantuan internasional.

Ekonomi

Setelah semenanjung dibagi pada tahun 1945, ekonomi Korea Utara berada dalam posisi yang jauh lebih baik daripada Korea Selatan. Sebagian besar basis industri berada di utara. Perang Korea menghancurkan ekonomi, tetapi Korea Utara bangkit dengan cepat. Namun pada awal 1990-an, Komunisme runtuh di Eropa Timur dan Uni Soviet. Komunis Korea kehilangan mitra-mitra dagang terbaiknya.

Sejak saat itu, Korea Utara berusaha untuk menjadi mandiri. Tapi hal ini terbukti sulit, terutama yang berkenaan dengan produksi pangan. Banjir dan kekeringan, ditambah dengan kebijakan pertanian yang usang, telah menyebabkan ketergantungan pada pangan impor. Bantuan pangan internasional telah menyelamatkan rakyat Korea Utara dari kelaparan yang meluas sejak tahun 1995.

Pada tahun 1996 dan sekali lagi pada tahun 1998, kelaparan parah terjadi. Kekurangan pangan terus mendera, dan banyak orang Korea Utara menderita kekurangan gizi dalam jangka waktu lama. Sebanyak dua juta warga Korea Utara kemungkinan telah tewas sejak pertengahan 1990-an karena kekurangan pangan. Harapan hidup rata-rata adalah 70 tahun, lebih rendah dibandingkan dengan kebanyakan negara.

Jasa

Sektor jasa, termasuk layanan pemerintah, memberikan kontribusi sekitar 30 persen terhadap PDB.

Manufaktur

Industri Korea Utara menyumbang hampir 50 persen dari perekonomian nasional. Negara ini memproduksi berbagai barang, meliputi produk militer, mesin, listrik, bahan kimia, tekstil, dan makanan. Pertambangan menghasilkan batu bara, bijih besi, batu kapur, magnesium, grafit, tembaga, seng, timah, dan logam mulia.

Pertanian

Sektor pertanian menyumbang 25 persen dari perekonomian negara. Petani Korea memproduksi padi, jagung, kentang, dan kedelai. Mereka juga beternak sapi, babi, dan ayam. Praktek pertanian yang buruk telah membuat banyak tanah Korea Utara rentan erosi. Dan tanaman sering rusak oleh banjir dan kekeringan.

Perdagangan

Ekspor utama Korea Utara meliputi mineral, manufaktur (termasuk senjata), tekstil, dan produk-produk pertanian dan perikanan. Tanpa cadangan minyak bumi, negara ini harus mengimpor sejumlah besar minyak mentah. Impor lainnya mencakup batubara, mesin dan peralatan, tekstil, dan biji-bijian. Mitra ekspor utama negara adalah China, Korea Selatan, dan India. Sedangkan mitra impor utamanya adalah China, Korea Selatan, dan Uni Eropa.

Transportasi

Korea Utara memiliki sistem kereta api yang dikembangkan dengan baik, namun sistem jalan raya kurang berkembang. Negara ini memiliki armada kapal dan bandara aktif yang menangani penerbangan domestik dan internasional.

Komunikasi

Pemerintah mengontrol radio, stasiun televisi, dan pers Korea Utara. Bahkan negara ini sangat membatasi penggunaan internet, kecuali dengan ijin khusus dan kebanyakan hanya untuk tujuan pemerintah.

Kota-kota Besar

P’yŏngyang adalah ibu kota dan kota terbesar Korea Utara. Kota ini juga merupakan pusat ekonomi dan budaya. P’yŏngyang adalah kota modern dengan sistem kereta bawah tanah dan bangunan dan monumen modern. Kota-kota besar lainnya di Korea Utara adalah Hamhung, Ch’ŏngjin Namp’o, Kaesong, dan Sinuiju. Pada tahun 2002, Kaesong, dekat perbatasan Korea Selatan, ditetapkan sebagai kawasan pasar bebas ekonomi khusus.

Warisan Budaya

Beberapa karya seni awal Asia yang paling dikenal adalah mural berusia 2.000 tahun yang ditemukan di sisi makam di wilayah P’yŏngyang. Lukisan-lukisan ini menggambarkan aktivitas yang populer pada waktu itu, seperti berburu, dan menunjukkan gaya berpakaian orang di waktu itu. Pembuatan gerabah mencapai titik tinggi sejak tahun 900-an, pada masa penguasa Koryo. Porselen masyhur yang dikenal sebagai celadon diproduksi pada waktu itu.

Hari ini, seni pertunjukan, terutama menyanyi dan drama, sangat berkembang di Korea Utara. Penggambaran adegan revolusioner dan cerita perjuangan kemerdekaan dan perlawanan dari penindasan luar negeri adalah tema populer. Hungbu dan Nolbu adalah cerita rakyat Korea populer tentang dua bersaudara yang sering dilakonkan di atas panggung, dalam lagu, dan film. Dalam cerita itu, seorang saudara sangat miskin tapi jujur ​​dan baik. Saudara lainnya kaya tapi serakah dan kejam. Kisah dua bersaudara ini sering digunakan untuk mewakili dua negara Korea yang berbeda.

Sejarah dan Pemerintah

Sekitar 2.000 tahun yang lalu, Korea Utara diperintah oleh kerajaan Koguryo yang kuat. Kerajaan ini berbasis di utara Korea Utara, dan menguasai wilayah besar di tempat yang sekarang menjadi wilayah China. Kemudian, kerajaan ini memindahkan ibukotanya ke P’yŏngyang. Akhirnya dua kerajaan lain, Paekche dan Silla, muncul di selatan. Korea memasuki zaman yang dikenal sebagai Tiga Kerajaan.

Pada tahun 600-an Masehi, fokus kekuasaan bergeser ke selatan. Semenanjung ini bersatu di bawah Kerajaan Silla (668-935). Seni dan Budha berkembang. Ketika dinasti Silla jatuh, dinasti Koguryo kembali berkuasa. Pendirinya menyebutnya kerajaan Koguryo Akhir. Kemudian nama ini disingkat menjadi Koryo dan menjadi dikenal di barat sebagai Korea. Dinasti Koryo (918-1392) berbasis di utara, di Kaesong. Dinasti ini memiliki pemerintahan yang damai dan sejahtera, kecuali invasi bangsa Mongol pada pertengahan tahun 1200-an. Orang Mongol menguasai kerajaan dan pemerintah selama sekitar satu abad. Tapi dinasti Koryo tidak jatuh.

Dinasti berikutnya, Chosŏn (1392-1910), memindahkan ibukota selatan ke Seoul, ibukota Korea Selatan masa kini. Dinasti Chosŏn damai dan sejahtera, tapi kerajaan mengalami serangkaian invasi pada akhir tahun 1500-an oleh Jepang dan Manchu. Pada tahun 1637, Korea dipaksa untuk menyatakan loyalitas kepada Manchu. Tapi dinasti Chosŏn terus berlanjut sampai tahun 1910. Pada tahun itu Jepang secara resmi menganeksasi Korea.

Meskipun Korea mencoba untuk mendeklarasikan kemerdekaan mereka pada tahun 1919, Korea tetap menjadi koloni Jepang sampai Perang Dunia II berakhir pada 1945. Korea kemudian diduduki oleh Sekutu. Korea Utara diduduki oleh angkatan bersenjata Uni Soviet dan Korea Selatan diduduki oleh pasukan Amerika Serikat. Garis pemisah ada di titik 38 derajat lintang utara.

Upaya untuk menyatukan kembali dua bagian negara ini gagal. Pada tahun 1948, setelah pemilihan umum yang diawasi oleh PBB, Republik Korea didirikan di selatan. Pada tahun yang sama di utara, Republik Demokratik Korea diciptakan oleh Komunis Uni Soviet. Pada tahun 1950, pasukan Korea Utara menginvasi Selatan dalam upayanya untuk menyatukan Korea secara paksa dibawah kekuasaan komunis.

Dari akhir Perang Dunia II sampai kematiannya pada tahun 1994, pemimpin Korut, Kim Il Sung, memerintah Korea Utara dengan tangan besi. Di bawah kepemimpinannya, tidak ada perbedaan pendapat yang diizinkan. Pada tahun 1997, anak Kim Il Sung, Kim Jong Il, memegang kendali partai yang berkuasa. Tahun berikutnya, dewan legislatif (Majelis Rakyat Agung) menghapuskan kepresidenan. Dewan menunjuk Kim Jong Il menjadi ketua Komisi Pertahanan Nasional, jabatan publik tertinggi di negara ini. Seorang perdana menteri menjabat sebagai kepala pemerintahan.

Komentar Anda