Profil dan Sejarah Negara Angola

Negara Angola terletak di pantai barat daya Afrika yang berbatasan dengan Samudra Atlantik. Sebagai salah satu negara terbesar di benua Afrika, Angola lebih luas daripada gabungan Perancis, Jerman, dan Inggris. Namun, penduduknya relatif kecil untuk ukurannya. Selama berabad-abad, Angola adalah koloni Portugis dan akhirnya merdeka pada tahun 1975. Di tahun-tahun berikutnya, negara ini mengalami masa perang saudara yang pahit dan kejam.

Foto kota Luanda di Angola

Penduduk

Orang-orang Angola masih terkait dengan suku Bantu di Afrika tengah dan selatan. Dari sekian banyak kelompok Bantu, yang terbesar di Angola adalah orang Ovimbundu, Kimbundu, dan Bakongo. Bersama-sama mereka membentuk sekitar 75 persen dari populasi Angola. Orang Ovimbundu, kelompok terbesar, tinggal di dataran tinggi tengah. Mereka dikenal karena keahliannya sebagai pedagang dan pandai besi. Orang Kimbundu tinggal di dekat kota-kota Luanda, ibukota Angola, dan Malange. Mereka sangat dipengaruhi oleh cara hidup orang Eropa. Orang Bakongo tinggal di barat laut.

Orang Angola yang merupakan keturunan campuran Eropa dan Afrika disebut mestiço. Mereka membentuk sebagian kecil dari populasi negara. Meski demikian, mereka memainkan peran penting dalam kehidupan ekonomi dan politik Angola. Sekitar 400.000 orang Portugis pernah tinggal di Angola, tapi kebanyakan telah meninggalkan negara ini setelah merdeka. Bahasa Portugis tetap menjadi bahasa resmi, tetapi berbagai bahasa Bantu juga digunakan secara luas. Beberapa orang Angola beragama Kristen, sementara yang lainnya menganut agama-agama tradisional Afrika.

Wilayah

Sebagian besar wilayah Angola terdiri atas dataran tinggi yang luas, yang naik ke ketinggian puncak di dataran tinggi Bié di wilayah tengah. Dataran rendah sempit membentang di sepanjang pantai Atlantik, dan wilayah utara ditutupi oleh hutan hujan tropis. Di selatan, Angola berbatasan dengan tepi utara Gurun Kalahari yang besar. Wilayah Angola juga mencakup daerah kecil di ujung utara yang disebut Cabinda, yang dipisahkan dari seluruh negeri oleh wilayah tetangga, Republik Demokratik Kongo. Kebanyakan sungai-sungai besar bermula dari dataran tinggi tengah dan berakhir di Atlantik.

Iklim

Iklim Angola bervariasi, tergantung lokasi dan elevasi. Daerah pesisir dan selatan umumnya beriklim panas dan kering. Wilayah dataran tinggi lebih dingin dan menerima curah hujan lebih.

Ekonomi

Pertanian dan pertambangan merupakan dasar dari perekonomian negara. Kebanyakan orang Angola adalah petani subsisten, yang menanam tanaman pangan untuk digunakan sendiri. Tanaman pangan utama adalah jagung, singkong, ubi jalar, dan pisang. Tanaman komersial yang paling penting adalah kopi dan tebu, diikuti kapas dan sisal (digunakan dalam pembuatan kabel dan benang).

Angola kaya akan mineral, terutama minyak bumi, yang menyumbang sebagian besar pendapatan ekspor. Bahkan, Angola adalah salah satu produsen minyak utama di Afrika. Negara ini juga memiliki cadangan berlian, bijih besi, dan mineral lainnya dalam jumlah cukup besar.

Banyak pekerja terampil Eropa meninggalkan Angola setelah kemerdekaan. Selama perang sipil yang terjadi kemudian, para petani diusir dari ladang mereka, dan dana pemerintah dihabiskan untuk perang, bukan untuk rekonstruksi.

Sejarah dan Pemerintahan

Orang-orang Bantu pertama kali pindah ke Angola dari Afrika Tengah di tahun 1300-an. Negara ini mengambil nama dari Ngola, penguasa kerajaan kuno Kimbundu.

Penjelajah Portugis, Diogo Cao, mencapai muara Sungai Kongo di tahun 1482. Portugis mendirikan ibukota, Luanda, di tahun 1575. Namun, penyakit, iklim tropis, dan perlawanan oleh orang-orang Afrika membuat mereka kewalahan untuk mendapatkan kekuasaan penuh sampai tahun 1918. Pemberontakan bersenjata melawan kekuasaan Portugis pecah di tahun 1961, yang diikuti oleh perang gerilya selama bertahun-tahun, sampai pemerintahan baru di Portugis memberikan kemerdekaan pada Angola di tahun 1975.

Gerakan Populer untuk Pembebasan Angola (MPLA) mendirikan pemerintahan gaya Komunis, yang dipimpin oleh Agostinho Neto sebagai presiden. Ia digantikan oleh José Eduardo dos Santos pada tahun 1979. Pemerintahan MPLA ditentang oleh Uni Nasional untuk Kemerdekaan Penuh Angola (UNITA), dipimpin oleh Jonas Savimbi.

Di saat yang sama, Uni Soviet dan Kuba mengirim pasukan untuk membantu MPLA, sementara Amerika Serikat dan Afrika Selatan mendukung UNITA. Dukungan pemerintah untuk gerakan kemerdekaan di negara tetangga Namibia membuat Angola terlibat bentrokan dengan Afrika Selatan, yang kemudian mencaplok Namibia.

Sebuah perjanjian untuk menarik pasukan Kuba dari Angola, yang ditandatangani pada tahun 1988, adalah salah satu dari beberapa syarat kemerdekaan Namibia (dicapai pada tahun 1990). Pada tahun 1991, setelah pemerintah dos Santos setuju untuk mengadakan pemilu yang demokratis, kesepakatan damai ditandatangani.

Pada pemilihan presiden 1992, baik dos Santos maupun Savimbi tidak mendapat suara mayoritas. Dos Santos tetap berkuasa, namun perang sipil kembali meletus. Pada tahun 2002, Savimbi dibunuh oleh pasukan pemerintah. Tak lama kemudian, dos Santos menyatakan gencatan senjata, mengakhiri 27 tahun perang saudara, di mana hampir satu juta orang Angola tewas sia-sia. Angola kemudian menghadapi tantangan untuk membangun kembali masyarakat dan ekonominya.

Namun, meski perang saudara sudah akhir, tidak berarti bahwa semua pemberontakan juga berakhir. Front Pembebasan Daerah Kantong Cabinda (FLEC) melancarkan serangan sendiri pada tahun 2002. Kelompok ini telah mengupayakan kemerdekaan untuk Cabinda sejak tahun 1974. Tentara Angola dengan cepat meredakan serangan itu. Pada tahun 2006, Cabinda diberi status politik dan ekonomi khusus. Para pemimpinnya diberi banyak posisi pemerintahan. Meski demikian, beberapa anggota FLEC terus melancarkan serangan terhadap sasaran-sasaran tertentu di Angola.

Pemilu legislatif diadakan pada tahun 2008. Kelompok MPLA yang berkuasa memenangkan 191 dari 220 kursi; UNITA memenangkan 16 kursi. Pemilihan unum ini adalah yang pertama di Angola sejak tahun 1992, dan secara umum berlangsung damai. Pemilihan presiden rencananya diselenggarakan pada tahun 2009, tapi ditunda.

Pada awal tahun 2010, parlemen menyetujui konstitusi baru yang menghapuskan pemilihan presiden langsung. Aturan pemilihan baru menyatakan bahwa jabatan presiden akan diberikan kepada kandidat peringkat teratas di partai yang menang dalam pemilihan parlemen. Perubahan itu diizinkan Presiden dos Santos dan ia terus menjadi presiden sampai 2012. Pemilihan parlemen Angola diadakan pada bulan Agustus 2012. MPLA menang dengan mudah dengan perolehan 78 persen suara, bersama partai afiliasi meraih total 183 dari 220 kursi di parlemen. Dos Santos terus menjabat presiden, posisi yang dipegangnya sejak tahun 1979.

Komentar Anda