Profil dan Sejarah Negara Mauritania

Mauritania adalah negara besar di barat laut Afrika yang berbatasan dengan Samudra Atlantik. Luas Mauritania hampir sama besar dengan gabungan Perancis dan Spanyol. Tapi sebagian besar wilayahnya berupa gurun dan hanya dapat dihuni oleh populasi yang jumlahnya relatif kecil. Sebagai bekas koloni Perancis, Mauritania memperoleh kemerdekaan penuh pada tahun 1960. Mauritania mengambil nama dari kelompok etnis dominan, bangsa Moor (atau Maures dalam bahasa Perancis).

Foto Negara Mauritania

Penduduk

Sekitar 30 persen dari 3,7 juta penduduk Mauritania adalah orang Moor, kelompok etnis campuran keturunan Arab dan Berber. Secara tradisional, mereka adalah kaum nomaden dari utara. Mereka pindah dari satu tempat ke tempat lain dengan ternak unta, domba, dan kambing mereka. Hewan ini menjadi sumber makanan, alat transportasi, dan kebutuhan hidup lainnya bagi orang Moor. Saat ini banyak orang Moor tinggal menetap.

Orang kulit hitam Mauritania tinggal terutama di selatan. Mereka membentuk 30 persen dari total populasi. Di dalamnya termasuk suku Fulani, kaum penggembala ternak yang melakukan perjalanan dengan hewan mereka untuk mencari lahan penggembalaan, serta suku Tukulor, Sarakolé, dan Wolof, yang merupakan para petani. Perikanan adalah mata pencaharian tradisional masyarakat yang tinggal di sepanjang pantai Atlantik. Sisa 40 persen dari populasi adalah campuran orang Moor dan kulit hitam.

Hampir semua penduduk Mauritania beragama Islam. Islam adalah agama negara, namun kebebasan beribadah dijamin oleh hukum. Bahasa Arab dan Wolof adalah bahasa resmi. Namun, banyak orang Mauritania yang berpendidikan juga berbahasa Perancis dan Inggris. Di selatan, orang berbicara dalam berbagai bahasa Afrika.

Pendidikan sifatnya wajib selama enam tahun. Pelajaran diajarkan dalam bahasa Arab, Prancis, dan Afrika. Hal ini dikarenakan orang kulit hitam keberatan jika hanya menggunakan bahasa Arab (bahasa Moor) di sekolah-sekolah.

Bentang Alam

Mauritania memiliki garis pantai sekitar 700 kilometer di sepanjang Samudra Atlantik. Wilayah utara, tengah, dan timur negara itu membentuk lebih dari setengah luas Mauritania. Wilayah-wilayah itu adalah bagian dari gurun Sahara yang besar. Di sini, hamparan pasir luas berpadu dengan beberapa puncak dan dataran tinggi berbatu.

Bagian lain dari Mauritania terletak di wilayah yang disebut Sahel, pinggiran semi-gurun Sahara. Daerah ini menjadi lahan penggembalaan, di mana sapi, domba, dan kambing diternak. Tapi kekeringan dan pemanfaatan berlebihan dari vegetasi telah menyebabkan kerusakan dan perambahan Sahara jauh ke selatan setiap tahun. Titik tertinggi di negara itu adalah Gunung Ijill di barat laut, yang memiliki ketinggian 915 meter.

Selain sedikit oasis padang pasir, hanya sekitar 10 persen lahan Mauritania yang cukup subur untuk ditanami sepanjang tahun. Tanah ini terletak di selatan di sepanjang Sungai Senegal. Wilayah ini lebih basah dan dingin dari seluruh wilayah Mauritania yang panas dan kering.

Ekonomi

Mauritania adalah salah satu negara termiskin di dunia. Sebagian besar orang berpendapatan satu atau dua dolar per hari. Negara ini sangat bergantung pada bantuan asing. Mauritania juga harus mengimpor banyak makanan. Ekonominya secara tradisional didasarkan pada ternak dan sedikit tanaman pangan, contohnya kurma, millet, sorgum, beras, dan jagung. Ikan dan produk ikan juga penting sebagai sumber pendapatan ekspor. Kekeringan panjang di tahun 1970-an menyapu bersih banyak ternak sapi, sebuah bencana ekonomi Mauritania yang belum pulih sampai sekarang. Di selatan, ancaman penghancuran tanaman berasal dari banjir dan belalang.

Jasa, termasuk pemerintah, menyumbang sekitar 45 persen dari perekonomian. Mineral Mauritania yang paling penting adalah bijih besi. Bijih besi menyumbang sekitar 40 persen dari seluruh ekspor. Negara ini juga memiliki cadangan gypsum, tembaga, fosfat, berlian, emas, dan minyak.

Kota-kota Besar

Nouakchott, ibukota, adalah kota terbesar Mauritania, dengan populasi sekitar 558.000 jiwa. Kota ini telah berkembang dalam beberapa tahun terakhir karena kekeringan di wilayah pedesaan di sekitarnya. Nouadhibou, kota terbesar kedua, adalah pelabuhan utama Mauritania di Atlantik. Kota ini memiliki populasi sekitar 72.000 jiwa.

Sejarah dan Pemerintah

Penduduk asli Mauritania adalah orang Bafour. Mereka adalah petani, nelayan, dan pengembara. Mereka digantikan oleh suku Berber dari Afrika Utara antara tahun 200-an dan 600-an.

Orang-orang Eropa pertama yang tiba di sana adalah Portugis di tahun 1400-an. Portugis, Belanda, Perancis, dan Inggris bersaing untuk menguasai wilayah tersebut. Pada akhir tahun 1800-an, penjelajah Prancis menembus wilayah pedalaman dan membuat perjanjian dengan kepala suku Moor. Wilayah ini menjadi protektorat Perancis pada tahun 1903 dan bagian dari Afrika Barat Perancis pada tahun 1920.

Mauritania mendapat pemerintahan sendiri pada tahun 1958 dan kemerdekaan penuh pada tahun 1960. Negara ini mengakuisisi bagian dari wilayah Sahara Spanyol (sekarang Sahara Barat) pada tahun 1976, tapi melepaskan haknya pada tahun 1979. Presiden pertama Mauritania, Moktar Ould Daddah, berkuasa sampai tahun 1978, ketika ia digulingkan oleh tentara. Kolonel Muhammad Ould Haidalla menjadi kepala negara pada tahun 1980.

Sebuah kudeta militer kedua, pada tahun 1984, menggulingkan Haidalla dan menjadikan Kolonel Maaouya Ould Sid Ahmed Taya sebagai penguasa baru. Tuntutan akan reformasi politik menyebabkan konstitusi baru lahir pada tahun 1991. Konstitusi baru mewadahi sistem politik multipartai dengan presiden dan legislatif terpilih. Presiden, yang menjabat sebagai kepala negara, menunjuk seorang perdana menteri yang memimpin pemerintah.

Taya terpilih sebagai presiden pada tahun 1992 dan terpilih kembali pada tahun 1997 dan 2003. Namun, beberapa partai politik oposisi menuduh bahwa pemilu telah dicurangi untuk memenangkan Taya. Pada tahun 2005, Taya digulingkan oleh kelompok yang diidentifikasi sebagai Dewan Militer untuk Keadilan dan Demokrasi. Pemimpinnya, Kolonel Ely Ould Mohamed Vall, menjanjikan transisi selama dua tahun menuju pemerintahan demokratis.

Pada bulan Maret 2007, dalam pemilihan umum yang bebas dan adil, Sidi Ould Cheikh Abdallahi terpilih menjadi presiden. Ia adalah seorang ekonom dan mantan menteri. Abdallahi akan menjabat selama 5 tahun. Namun, pada bulan Agustus 2008, dia digulingkan dalam kudeta militer yang dipimpin oleh Jenderal Mohamed Ould Abdel Aziz, yang mendirikan Dewan Tinggi Negara dan menyatakan dirinya sebagai presiden dewan.

Pada bulan April 2009, Abdel Aziz mengundurkan diri sehingga dia bisa menjadi calon dalam pemilihan presiden Juli. Abdel Aziz menjadi pemenang pemilu, tetapi oposisi menuduh bahwa ada kecurangan pemilu.

Pada tahun 2011, Mauritania, seperti negara Arab lainnya, mengalami protes dari masyarakat yang menuntut reformasi politik dan ekonomi. Banyak orang memprotes perbudakan kulit hitam di negara ini. Perbudakan dihapuskan di pertengahan 1980-an, tapi masih berlangsung sampai sekarang. Protes berlanjut sampai tahun 2012. Pemilu legislatif pertama sejak 2006 diselenggarakan pada akhir tahun 2013. Mayoritas kursi dikuasai partai politik presiden dan sekutunya.

One thought on “Profil dan Sejarah Negara Mauritania

  • 04/18/2016 at 5:40 pm
    Permalink

    Thanks bgt… article helping q bgt

    Reply

Komentar Anda