Pertanian pada Masa Kekaisaran Romawi Kuno

Bangsa Romawi awal adalah bangsa penggembala dan petani. Bahkan ketika kerajaan itu mencapai puncaknya pada sekitar tahun 100 M, setidaknya 85 persen dari penduduknya masih bekerja sebagai petani dan tinggal di tanah pertanian. Romawi mengandalkan hasil pertanian yang ditanam oleh para petani mereka untuk memberi makan tentara dan penduduk kota-kotanya.

Pertanian Romawi Kuno

Di masa pemerintahan Republik awal, banyak petani menggarap lahan kecil milik mereka sendiri, tetapi saat prajurit-petani diminta untuk menghabiskan sebagian besar waktunya jauh dari rumah dan saat kekayaan serta kaum budak mulai membanjiri kota sebagai akibat dari kemenangan di Perang Punisia, banyak lahan pertanian kecil diambil alih oleh pemilik tanah yang lebih besar. Beberapa lahan besar, yang disebut latifundia, digarap oleh sekelompok budak; lahan lainnya digarap petani penyewa. Para pemilik pertanian tinggal di rumah-rumah kota besar yang disebut villa. Orang-orang biasa tinggal di rumah-rumah sederhana yang terbuat dari batu bata yang dijemur.

Petani Romawi menanam tanaman yang tumbuh sesuai iklim Mediterania yang panas. Tanaman sereal antara lain emmer (berbagai gandum kuno), barley, gandum, rye, dan millet. Budidaya zaitun (terutama untuk minyak) dan anggur (terutama minuman anggur) juga sangat penting. Sapi, domba, dan kambing diternak untuk diambil daging, susu, serta kulitnya.

Pekerjaan tani sangat menguras tenaga, tapi dengan melimpahnya pasokan budak, orang-orang Romawi mendapat sedikit bantuan untuk mengembangkan alat pertanian yang hemat tenaga. Pekerjaan tani Romawi menggunakan alat-alat seperti sekop, arit, dan sabit untuk mengolah tanah dan menanam tanaman. Garpu rumput juga digunakan untuk memindahkan jerami yang dijadikan makanan ternak. Namun, bangsa Romawi juga mengadopsi beberapa mesin pertanian yang mereka pelajari saat kekaisaran mereka menguasai wilayah lain. Bajak beroda awalnya berasal dari Gaul, dan mesin pengirik beroda (digunakan untuk mengirik, atau memisahkan biji gandum dari tangkainya) kemungkinan berasal dari Carthage.

Minuman anggur (wine) sangat penting dalam kehidupan Romawi. Saat itu tidak ada teh, kopi, atau minuman cokelat, dan meskipun bir sudah dikenal, namun minum bir tidak umum dilakukan. Bangsa Romawi menanam anggur di Italia untuk memproduksi minuman anggur, dan mereka juga mengimpor minuman anggur dari bagian lain dari kekaisaran mereka, seperti Yunani, Spanyol, Gaul, dan Afrika Utara.

Anggur membutuhkan perhatian khusus. Tanaman ini harus dipangkas dan dijaga ketinggiannya dari tanah. Pada saat panen, anggur dipetik dengan tangan, kemudian diinjak-injak untuk menghancurkan buahnya dan mengekstrak sarinya untuk dijadikan minuman anggur. Penulis Romawi, Columella, yang menulis sekitar tahun 100 M, memberikan informasi rinci tentang budidaya anggur Romawi kuno dalam karyanya Scriptores de Re Rustica, atau Writings on Country Matters.

Komentar Anda