Fakta Ilmiah: Ternyata Tanaman Juga Bisa Berbicara

Selama ini, kita cenderung menganggap tanaman sebagai “furnitur” alami dunia. Tanaman tidak bergerak, tidak membuat suara, dan tampaknya tidak menanggapi apa pun -setidaknya tidak dengan sangat cepat. Rumput tidak menangis saat Anda memotongnya, bunga tidak menjerit ketika ia dipetik. Tapi seperti yang sering terjadi, pandangan manusia tentang dunia seringkali keliru. Tanaman ternyata juga berbicara satu sama lain di sepanjang waktu. Dan bahasanya adalah bahasa kimia.

Tanaman Tomat

Selama bertahun-tahun, para ilmuwan telah melaporkan bahwa berbagai jenis tanaman, dari pohon hingga tomat, melepaskan senyawa ke udara untuk membantu tanaman tetangganya. Semua peringatan kimia ini memiliki tujuan yang sama: menyebarkan informasi tentang penyakit atau kutu di satu tanaman sehingga tanaman lain dapat membela diri. Tapi bagaimana persisnya tanaman menerima dan bereaksi pada sinyal-sinyal tersebut sampai kini masih misterius.

Dalam jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences minggu ini, para peneliti di Jepang mencoba memberikan beberapa penjelasan. Mereka telah mengidentifikasi satu pesan kimia dan menelusurinya mulai dari proses pelepasannya hingga reaksinya.

Para ilmuwan menggunakan tanaman tomat yang terserang hama umum, yakni ulat pangkas. Untuk memulainya, mereka menumbuhkan tanaman dalam dua kompartemen plastik yang dihubungkan dengan tabung. Salah satu tanaman diberi ulat dan ditempatkan berlawanan dengan arah angin, sementara yang lain tidak diberi ulat dan ditempatkan sesuai arah angin. Tanaman kedua (yang sesuai arah angin) kemudian juga diberi ulat pangkas oleh ilmuwan. Namun hasil penelitian menunjukkan bahwa tanaman yang sebelumnya berada di dekat tanaman tetangga yang sakit mampu mempertahankan diri lebih baik terhadap serangan ulat tersebut.

Para peneliti lantas mempelajari daun tanaman yang terkena dan tidak terkena ulat. Mereka menemukan satu senyawa yang lebih banyak terdapat pada tanaman yang terkena ulat. Zat ini disebut HexVic. Ketika para ilmuwan memberi makan ulat pangkas dengan HexVic, zat ini menurunkan tingkat kelangsungan hidup mereka sebesar 17 %.

Para ilmuwan mengidentifikasi sumber HexVic, dan menyemprotkannya sedikit pada tanaman yang sehat. Tanaman tersebut kemudian dapat mulai memproduksi HexVic -zat pembunuh ulat- itu sendiri. Para peneliti menegaskan bahwa tanaman yang tidak terserang ulat pasti sudah membangun senjata mereka sendiri untuk melawan serangga dan penyakit. Bagaimana mereka tahu kapan harus memperkuat pertahanannya? Mereka diperingatkan terlebih dahulu oleh tanaman tetangga mereka.

Ini adalah kisah yang kompleks, dan bisa saja terjadi pada spesies tanaman lain selain tomat. Proses ini juga bisa terjadi dengan sinyal kimia lain yang masih belum diketahui. Namun untuk saat ini, kita tahu bahwa tanaman tidak hanya berkomunikasi, mereka juga menjaga satu sama lain.

Komentar Anda