Petro Poroshenko, Presiden Baru Ukraina

Kandidat pro-Eropa, Petro Poroshenko, secara resmi dinyatakan sebagai pemenang (26/5) dalam pemilihan presiden pertama yang diadakan di Ukraina sejak Viktor Yanukovych digulingkan pada bulan Februari lalu dalam pemberontakan rakyat. Poroshenko meraup 54 persen suara. Sedangkan kandidat lain, mantan Perdana Menteri Yulia Tymoshenko, hanya mendapat 13,1 persen.

Petro Poroshenko
Petro Poroshenko

Setelah memastikan kemenangannya, Poroshenko bersumpah bahwa ia tidak akan membiarkan wilayah timur Ukraina berubah menjadi Somalia, yaitu negara tanpa hukum yang dikuasai oleh teroris dan bajak laut: “Operasi antiteroris (di timur Ukraina) tidak boleh dan tidak seharusnya berlangsung selama dua atau tiga bulan. Operasi ini harus berakhir dalam beberapa jam ke depan.”

Setelah pemilu hari Minggu lalu, miliarder berusia 48 tahun ini menyatakan bahwa mayoritas rakyat Ukraina telah memberinya mandat untuk melanjutkan upaya integrasi dengan Eropa. Namun, prioritas utamanya adalah melakukan perjalanan ke timur Ukraina untuk mengatasi “perang dan kekacauan yang disebabkan oleh pemberontak separatis pro-Rusia.”

Pagi kemarin (27/5), Kementerian Dalam Negeri Ukraina melaporkan bahwa tentara Ukraina memegang kendali penuh atas bandara di kota timur Donetsk. Usaha pengambilalihan bandara oleh separatis pro-Rusia kemarin disambut dengan serangan udara tentara dan serangan pasukan bersenjata lengkap. Serangkaian bentrokan berdarah menewaskan sedikitnya 30 pemberontak. Wartawan BBC di Ukraina menyebut bahwa upaya untuk merebut bandara dimaksudkan untuk mencegah Poroshenko mendarat di sana, terutama setelah ia menyatakan niatnya secara pribadi untuk pergi ke timur Ukraina menghadapi pemberontakan.

Ahli hubungan internasional mencatat bahwa pemilu ini, yang menjadi event paling penting sejak Ukraina berpisah dari Rusia 23 tahun yang lalu, berlangsung relatif aman, dengan rendahnya tingkat kekerasan dan gangguan di tempat-tempat pemungutan suara.

Komentar Anda