Robot Pembunuh, Senjata Perang Masa Depan?

Robot dengan kemampuan untuk membunuh tanpa input manusia adalah fokus dari konferensi PBB baru-baru ini di Jenewa, Swiss. Perwakilan dari 87 negara menghadiri konferensi yang pertama kali diselenggarakan untuk membahas munculnya Lethal Autonomous Weapons Systems (LAWS).

Robot pembunuh

Robot pembunuh telah lama menjadi objek fiksi ilmiah, dan seperti dalam seri film populer The Terminator, robot jahat akan menyebabkan kepunahan bagi kehidupan manusia. Perwakilan di PBB tidak mempertimbangkan skenario apokalipstik seperti itu, tetapi sebaliknya, mereka berfokus pada aplikasi jangka pendek dan masalah realistis yang mungkin timbul.

Para ahli membahas bagaimana mendefinisikan robot yang benar-benar otonom dan teknologi yang dibutuhkan untuk mengembangkan sistem tersebut. Mereka juga membahas potensi manfaat dari pengerahan robot pembunuh dalam operasi militer serta potensi masalah etika dan hukum dari penggunaan robot tersebut.

Sistem senjata robot sudah dikerahkan oleh lembaga militer dan intelijen. Pesawat udara tak berawak, yang populer disebut drone, telah menewaskan ribuan orang di Afghanistan, Pakistan, dan Yaman. Namun, drone tidak sepenuhnya otonom. Meski pesawat canggih ini dapat terbang dan mengintai musuh di atas suatu wilayah tanpa input manusia, hanya operator manusia yang bisa meluncurkan senjatanya.

Keterbatasan ini bisa saja berubah dalam waktu dekat. Kamera canggih dengan sistem pelacakan dan software pengenalan wajah dapat segera mempermudah robot untuk menentukan target tanpa campur tangan manusia. Membenamkan senjata atau peluncur rudal ke dalam sistem seperti itu akan menjadi hal mudah. Pada bulan Maret lalu, Rusia mengumumkan bahwa mereka sedang mengembangkan sebuah tank mirip robot otonom untuk menjaga situs rudal balistik dan secara otomatis menyerang para penyusup.

Sebagian perwakilan pemerintah pada pertemuan tersebut menyatakan bahwa manusia harus tetap mengendalikan setiap keputusan yang berhubungan dengan nyawa manusia. Hanya lima negara -Kuba, Ekuador, Mesir, Pakistan, dan Vatican City- yang memberikan larangan langsung pada robot otonom yang mematikan ini.

Komentar Anda