Gas-gas Beracun yang Digunakan dalam Perang Dunia I

Jerman telah lama mempersiapkan diri untuk menyambut Perang Dunia I. Dan gas adalah salah satu senjata “rahasia” Jerman terbaru dalam perang itu. Ada tiga jenis dasar gas yang digunakan kala itu:

gas beracun

Lachrymal (Gas Air mata)

Sama seperti gas air mata saat ini, gas ini menyebabkan kebutaan sementara dan peradangan pada hidung dan tenggorokan korban. Masker gas bisa digunakan sebagai perlindungan yang sangat baik dari jenis gas ini. Xylyl bromide adalah gas air mata populer saat itu sebab mudah dibuat.

Asphyxiate

Yang berada dalam kelas ini antara lain klorin, fosgen, dan diphosgen. Klorin menimbulkan kerusakan dengan membentuk asam klorida ketika terjadi kontak dengan kelembaban seperti di dalam paru-paru dan mata. Gas ini akan mematikan pada takaran 1:5000 (gas/udara), sedangkan fosgen mematikan dalam takaran 1:10.000 (gas/udara) -dua kali lebih beracun.

Diphosgen, pertama kali digunakan oleh Jerman di Verdun pada 22 Juni 1916, sangat mematikan dan tidak bisa disaring oleh masker gas standar secara efektif. Gas klorin akan menghancurkan organ pernapasan korban dan menyebabkan kematian perlahan-lahan karena sesak napas. Kala itu, dokter tidak dapat menemukan cara untuk mengobati keracunan akibat gas klorin.

Mustard Gas

Dichlorethylsulphide atau mustard gas adalah yang paling ditakuti dari semua senjata kimia dalam Perang Dunia I. Berbeda dengan gas-gas lain yang menyerang sistem pernapasan, gas ini bekerja pada kulit lembab yang tidak tertutup. Kulit semacam ini bisa ditemukan antara lain pada area mata, paru-paru, ketiak, selangkangan, dan sebagainya. Masker gas hanya bisa memberikan sedikit perlindungan. Jika terjadi kontak dengan kulit, agen berminyak ini akan membuat kulit melepuh dan terbakar serta pendarahan pada paru-paru. Gas ini akan melayang-layang di daerah rendah selama berjam-jam, bahkan berhari-hari, setelah disebarkan.

Komentar Anda