Seluk-Beluk Benua Afrika yang Eksotis

afrika

Afrika adalah benua terbesar kedua di dunia dari segi wilayah dan populasi. Hanya benua Asia yang memiliki wilayah lebih besar dan penduduk lebih banyak dari Afrika. Afrika mencakup area seluas 11.676.000 mil persegi (30.241.000 kilometer persegi) atau sekitar seperlima dari luas daratan dunia, dan memiliki populasi lebih dari 1 miliar atau sekitar sepertujuh dari populasi dunia.

Benua Afrika adalah dataran tinggi luas yang dihiasi oleh pegunungan dan di beberapa daerah berbatasan dengan dataran pantai sempit. Bentang alam Afrika sangat kontras dan merupakan keajaiban alam yang besar. Di hutan hujan tropis di Afrika barat dan tengah, puncak pohon menjulang tinggi membentuk kanopi hijau yang tebal. Gurun terbesar di dunia, Sahara, membentang di sepanjang Afrika Utara. Gurun ini mencakup wilayah hampir seluas Amerika Serikat. Afrika juga memiliki sungai terpanjang di dunia, yakni Sungai Nil. Sungai ini mengalir lebih dari 4.000 mil (6.400 kilometer) melalui timur laut Afrika. Padang rumput membentuk sekitar sepertiga dari luas benua. Gajah, jerapah, singa, zebra, dan banyak hewan lain hidup di padang rumput yang luas di Afrika timur dan selatan.

Afrika dibagi menjadi 54 negara independen dan beberapa unit politik lainnya. Negara terbesar, Aljazair, memiliki luas 919.595 mil persegi (2.381.741 kilometer persegi). Yang terkecil, Seychelles, memiliki luas hanya 176 mil persegi (455 kilometer persegi). Negara Afrika yang paling padat, Nigeria, memiliki sekitar 175 juta penduduk. Namun, sekitar sepertiga dari keseluruhan negara Afrika memiliki kurang dari 5 juta penduduk. Sekitar 940 juta orang -85 persen dari total penduduk- hidup di selatan Sahara di wilayah luas yang disebut Afrika sub-Sahara.

Ada beberapa ratus kelompok etnis di seluruh Afrika, masing-masing memiliki bahasa atau dialek dan cara hidup sendiri. Banyaknya kelompok etnis ini menyulitkan beberapa negara Afrika untuk berkembang menjadi negara-negara modern yang bersatu. Di beberapa negara Afrika, batas-batas nasional melintasi tanah air etnik tradisional. Akibatnya, penduduknya merasa memiliki hubungan lebih dekat dengan tetangga di negara lain daripada kelompok etnis lain di dalam negeri mereka sendiri. Perbedaan etnis dan agama telah menyebabkan perang sipil di beberapa negara.

Afrika memiliki kekayaan mineral yang besar, antara lain cadangan besar tembaga, berlian, emas, dan minyak bumi. Benua ini juga memiliki hutan yang berharga. Selain itu, banyak sungai dan air terjun Afrika digunakan untuk menghasilkan listrik tenaga air. Afrika memproduksi sebagian besar singkong, biji kakao, dan ubi jalar dunia. Tapi Afrika memiliki ekonomi kurang berkembang dari semua benua kecuali Antartika.

Pertanian adalah kegiatan ekonomi terkemuka di Afrika, tetapi sebagian besar petani menggunakan alat dan metode bertani yang tradisional pada tanah yang buruk. Sekitar dua-pertiga dari orang Afrika tinggal di daerah pedesaan, di mana mereka bercocok tanam atau memelihara ternak. Sejak pertengahan 1900-an, jutaan orang Afrika di pedesaan berbondong-bondong ke kota-kota dan mengadopsi gaya hidup yang lebih urban. Pengembangan manufaktur terhambat oleh kurangnya modal untuk membangun pabrik-pabrik, kurangnya pekerja terampil, dan persaingan dari industri di benua lain.

Banyak negara Afrika bergantung hanya pada satu atau dua produk pertanian atau mineral hingga lebih dari setengah pendapatan ekspor mereka. Dalam kasus gagal panen atau anjloknya harga pasar dunia, ekonomi di suatu negara akan menderita. Sebagian besar negara-negara Afrika bergantung sampai batas tertentu pada bantuan dari negara-negara lain di luar benua itu.

Salah satu peradaban besar pertama di dunia –Mesir-muncul di sepanjang tepi Sungai Nil lebih dari 5.000 tahun yang lalu. Kemudian, kerajaan kuat dan kebudayaan maju lainnya berkembang di Afrika. Meskipun demikian, selama bertahun-tahun Barat menyebut Afrika sebagai “Benua Hitam.” Mereka menggunakan nama ini karena kurangnya pengetahuan mereka akan geografi pedalaman Afrika, dan mereka salah menerka bahwa orang-orang dari pedalaman Afrika tidak memiliki kebudayaan penting.

Selama akhir abad ke 15 dan 16, orang Eropa mulai mendirikan pos perdagangan di Afrika. Emas, gading, dan budak menjadi ekspor benua yang paling berharga. Pada akhir abad ke-19, negara-negara Eropa bersaing keras untuk menguasai sumber daya Afrika. Pada awal abad ke-20, mereka telah menjadikan hampir seluruh wilayah Afrika sebagai imperium kolonial.

Penjajah Eropa menggunakan koloni mereka sebagai sumber kekayaan, mengeruk sumber daya alamnya, sementara sebagian besar penduduk yang terjajah hidup dalam kemiskinan. Penguasa kolonial sering mengabaikan adat istiadat setempat dan batas-batas etnis.

Banyak orang Afrika menolak kekuasaan kolonial sejak awal. Tapi tuntutan kemerdekaan tidak menjadi gerakan massa yang kuat sampai pertengahan abad ke-20. Antara tahun 1950 dan 1980, 47 koloni Afrika meraih kemerdekaan. Tapi penjajahan kolonial selama bertahun-tahun telah membuat Afrika kurang siap untuk menghadapi dunia modern.

Pemimpin di banyak negara-negara baru mengelola perekonomian nasional mereka dengan buruk dan menghadapi konflik etnis serta tantangan sosial lainnya. Para perwira militer menggulingkan pemerintahan di banyak negara. Di beberapa negara, kediktatoran militer muncul. Di sebagian besar negara lain, partai politik tunggal menjadi kekuatan yang berkuasa.

Hingga kini, persaingan etnis dan sengketa teritorial antar negara terus mengancam stabilitas Afrika. Masalah seperti kelebihan penduduk, kemiskinan, kelaparan, korupsi, dan penyakit tetap menjadi tantangan serius bagi para pemimpin Afrika.

Komentar Anda