Asal Usul Medali Olimpiade

medali olimpiadeKetika mendengar kata medali emas, perak, perunggu, pikiran kita mungkin akan tertuju pada ajang olahraga terbesar di dunia, Olimpiade. Medali adalah representasi nyata dari penghormatan yang diberikan kepada tim atau individu atau pada mereka yang mendapat peringkat pertama (medali emas), peringkat kedua (medali perak), dan peringkat ketiga (medali perunggu) di setiap kompetisi. Namun, bagaimana sebenarnya asal-usul medali Olimpiade? Apakah medali merupakan warisan Olimpiade Yunani kuno atau merupakan produk Olimpiade modern? Apakah medali-medali tersebut benar-benar terbuat dari emas, perak, dan perunggu? Apakah medali itu sama atau berbeda pada setiap Olimpiade? Siapa yang mendesainnya?

Medali mewakili nilai-nilai Olympisme: Persahabatan, kehormatan, dan keunggulan dalam menghormati lawan. Bagi para pemenang, medali adalah simbol abadi kerja keras, latihan, ketahanan, sportivitas, dan kemuliaan tertinggi bagi dirinya sendiri dan bagi negaranya. Para pemenang Olimpiade Yunani kuno tidak mendapat medali samasekali. Sebuah karangan bunga zaitun diletakkan di atas kepala sang juara. Peringkat kedua dan ketiga tidak mendapatkan apa-apa.

Pada tahun 1896, tahun pertama Olimpiade modern digelar, hanya juara pertama dan kedua yang diakui. Karena perak dianggap lebih berharga ketimbang emas pada waktu itu, pemenang pertama dianugerahi medali perak dan sebuah mahkota dari cabang bunga zaitun. Para atlet yang menduduki peringkat kedua mendapatkan medali perunggu dan mahkota laurel. Setiap atlet yang berpartisipasi dalam Olimpiade menerima medali kenang-kenangan.

Pemberian medali kepada tiga pemenang teratas pertama kali diperkenalkan pada tahun 1904. Pada tahun yang sama, medali perak  untuk juara pertama digantikan dengan medali emas. Medali emas pertama terbuat dari emas murni dan diberikan sampai tahun 1912. Namun saat ini, medali “emas” sebenarnya terbuat dari sterling silver yang dilapisi dengan lapisan tipis emas murni.

Komite Olimpiade Internasional (IOC) yang menentukan dimensi dan bahan medali. Negara tuan rumah selaku panitia yang mendesain dan memoles medali harus mendapat persetujuan IOC. Setiap ukuran medali harus sesuai dengan regulasi, yakni berdiameter 5 cm dengan ketebalan sekitar 2,5 mm. Baik medali emas maupun perak harus mengandung 92,5% perak dan medali emas harus dilapisi emas 0,6 gram. Medali perunggu dibuat dari perunggu murni.

Desain bagian depan medali Olimpiade tak pernah berubah sejak tahun 1928. Pada bagian depan medali terdapat ukiran dewi Yunani Nike (yang mewakili kemenangan), lima cincin Olimpiade, stadion Athena kuno, guci Yunani yang disebut amphora, dan kereta yang ditarik kuda. Pada bagian depan medali terdapat tahun dan edisi Olimpiade serta nama negara penyelenggara. Setiap negara tuan rumah dapat menambahkan rincian tertentu untuk keseluruhan desain bagian depan medali. Mereka juga diperbolehkan merancang bagian belakang, depan, dan samping. Tapi apapun desainnya, semua medali Olimpiade harus mencerminkan karakter ajang olahraga asal Yunani itu.

Upacara pemberian medali harus dilakukan sesegera mungkin setelah pertandingan final berakhir. Juara pertama berdiri di tengah di podium tertinggi, juara kedua berada di sebelah kanan dan juara ketiga berada di sebelah kiri peraih medali emas. Nama-nama mereka diumumkan dan medali diberikan baik oleh presiden IOC maupun oleh anggota IOC lain, bersama dengan presiden atau perwakilan dari badan olahraga internasional tersebut. Bendera negara-negara peraih medali dikibarkan pada tiga tiang bendera dengan bendera pemenang pertama berada di tiang tengah. Tak lupa lagu kebangsaan negara peraih medali emas dimainkan. Dalam tim, masing-masing atlet yang telah ambil bagian setidaknya dalam satu pertandingan Olimpiade akan mendapatkan medali. Semua atlet dalam tim mulai dari urutan keempat sampai kedelapan mendapatkan diploma atau sertifikat.

Teknik Pembuatan Medali Olimpiade

Teknik yang digunakan untuk menghasilkan medali berusia lebih dari 1.000 tahun yang dikenal dengan teknik pengecoran “lost-wax” atau “microfusion”. Objek dibentuk dengan menggunakan lilin khusus yang disuntikkan ke dalam cetakan karet silikon yang dibuat pada matriks asli atau yang disebut “prototipe”. Obyek tersebut kemudian dipasangi sebuah saluran untuk tempat masuk lilin dan ditempatkan ke dalam silinder yang diisi dengan plester keramik cair. Cetakan ini kemudian dipanggang dalam oven pada suhu 800 derajat Celsius. Saat lilin mendingin, lilin yang larut tersebut dibuang dan logam cair dimasukkan ke dalamnya. Setelah pendinginan kedua selesai, perajin mewarnai medali menggunakan patina yang merupakan pencampuran asam dan panas.

Komentar Anda