Mengenal Seni Suku Aborigin Australia Yang Unik

Seni AboriginOrang-orang Aborigin tiba di benua Australia dari Asia Tenggara sekitar 50.000 tahun yang lalu. Seni cadas Aborigin adalah salah satu seni tradisional tertua di dunia yang masih ada hingga kini. Banyak situs seni cadas Australia yang berusia 40.000 tahun dan ada pula yang jauh lebih tua.

Seni cadas terdiri atas lukisan dan ukiran pada permukaan batu, terutama pada dinding batu yang terlindung oleh bebatuan yang menggantung. Seni-seni tersebut membentuk pola geometris lingkaran, garis, titik, dan bentuk lainnya. Seni cadas lainnya menggambarkan manusia, hewan, dan tokoh-tokoh mitos. Lukisan tradisional yang disebut lukisan X – ray menunjukkan organ dan tulang dari hewan dalam garis tubuhnya. Ada lebih dari 100.000 situs seni cadas ditemukan di Australia, terutama di New South Wales, di bagian utara Queensland dan Australia Barat, serta di seluruh Northern Territory.

Seniman Aborigin juga melukis angka dan pola geometris pada lembaran kulit kayu menggunakan pigmen alami seperti oker (campuran alami dari tanah liat dan besi oksida), tanah liat, dan arang. Setelah bangsa Eropa menduduki Australia, lukisan kulit kayu menjadi bentuk yang paling banyak ditemukan dari seni Aborigin. Pendudukan bangsa Eropa sangat mengganggu kelangsungan budaya tradisional suku Aborigin dan di banyak daerah justru malah menghancurkannya. Saat ini, para seniman Aborigin masih membuat bentuk-bentuk kesenian tradisional, terutama di bagian tengah dan utara Australia.

Pada akhir tahun 1930-an, sekelompok seniman Aborigin yang tinggal di Hermannsburg di Australia bagian tengah mengembangkan style lukisan lanskap dengan warna air. Seniman yang paling terkenal saat itu adalah Albert Namatjira. Namatjira melukis pemandangan dengan warna air di atas pedalaman kering benua. Lukisan Namatjira itu menjadi sangat populer di kalangan pengunjung pedalaman Australia. Mereka membeli banyak karya asli dan karya reproduksinya.

Sejak tahun 1970-an, seniman Aborigin di seluruh Australia telah menggunakan berbagai media, terutama akrilik di atas kanvas. Pada awal 1970-an, sekelompok seniman di Papunya, Northern Territory, mulai menggambarkan ritual keagamaan mereka dan cerita leluhur di atas kanvas. Karya-karya seniman Papunya seperti Clifford Possum Tjapaltjarri dan Michael Nelson Tjakamrra serta Emily Kngwarreye dari Utopia di Northern Territory kini sudah diakui sebagai sumbangsih berharga pada seni dunia yang sangat asli.

Komentar Anda